DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh terus memperkuat upaya penanggulangan HIV/AIDS melalui peningkatan skrining, edukasi kepada kelompok usia produktif, serta penyusunan regulasi khusus yang melibatkan berbagai pihak lintas sektor.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, drg. Supriady R, M.Kes, mengatakan penambahan temuan kasus HIV selama Januari hingga Juni 2026 tidak serta-merta menunjukkan meningkatnya penularan, melainkan juga dipengaruhi oleh semakin luasnya cakupan deteksi dini yang dilakukan pemerintah.
Menurutnya, sepanjang enam bulan pertama tahun 2026, Dinkes Banda Aceh telah melakukan sebanyak 7.173 skrining HIV. Dari hasil pemeriksaan tersebut ditemukan 43 kasus baru HIV.
"Semakin luas cakupan skrining, tentunya semakin banyak kasus yang sebelumnya belum terdiagnosis dapat ditemukan lebih awal. Jadi peningkatan temuan kasus tidak bisa langsung disimpulkan sebagai peningkatan penularan," ujar drg. Supriady kepada Dialeksis, Sabtu, 18 Juli 2026.
Ia menjelaskan, intensitas skrining yang lebih tinggi pada Mei 2026 turut memengaruhi peningkatan jumlah temuan kasus pada periode tersebut. Saat itu, kegiatan penjangkauan dan pemeriksaan dilakukan secara lebih merata di berbagai fasilitas layanan kesehatan.
Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh juga menggencarkan edukasi kepada kelompok usia produktif, termasuk mahasiswa. Program tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan kampus, unit layanan kesehatan mahasiswa, klinik universitas, serta berbagai fasilitas kesehatan lainnya.
"Kami menggandeng klinik pratama, klinik Universitas Syiah Kuala (USK), UIN Ar-Raniry, rumah sakit, dan layanan kesehatan lainnya untuk melakukan edukasi maupun skrining secara bertahap kepada mahasiswa. Tujuannya agar mereka memiliki pemahaman yang baik sehingga terhindar dari perilaku seksual berisiko," katanya.
Selain menyasar perguruan tinggi, Dinkes Banda Aceh juga memperkuat pendekatan berbasis keluarga. Salah satunya melalui pemeriksaan kesehatan calon pengantin yang dilakukan di puskesmas bekerja sama dengan Kantor Urusan Agama (KUA). Pemeriksaan tersebut mencakup tes HIV sebagai bagian dari layanan kesehatan pranikah.
"Apabila ditemukan salah satu pasangan positif HIV, maka kami melakukan pendampingan dan penanganan lebih lanjut. Penguatan keluarga menjadi salah satu strategi penting dalam pencegahan HIV," jelasnya.
Ke depan, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh juga tengah menyiapkan langkah yang lebih komprehensif melalui kolaborasi dengan berbagai instansi. Pembahasan tersebut telah melibatkan Sekretaris Daerah, organisasi perangkat daerah terkait, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
"Kami sedang menyusun tim dan regulasi, kemungkinan dalam bentuk Peraturan Wali Kota (Perwal) tentang penanggulangan HIV/AIDS. Dalam jangka panjang juga terbuka peluang lahirnya qanun yang mengatur upaya penanggulangan HIV/AIDS secara lebih komprehensif di Kota Banda Aceh," ungkap drg. Supriady
Ia menambahkan, salah satu program yang akan diperkuat melalui regulasi tersebut adalah edukasi kesehatan reproduksi secara menyeluruh dan bertahap kepada kalangan remaja, mulai dari siswa SMP, SMA sederajat hingga santri di pesantren.
"Pelibatan keluarga, sekolah, tokoh agama, dan tenaga kesehatan menjadi kunci penting dalam membangun kesadaran masyarakat untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS," pungkas drg. Supriady.