Beranda / Gaya Hidup / Otomotif / Peneliti Temukan Cara Baru Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik

Peneliti Temukan Cara Baru Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik

Jum`at, 02 Juli 2021 19:30 WIB

Font: Ukuran: - +


Karyawan mengganti baterai sepeda motor listrik di SPBKLU, Gedung Direktorat Kementerian ESDM, Jakarta, Senin 21 Desember 2020. Kementerian ESDM juga menargetkan hingga 2025 dapat membangun Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di 2.400 titik guna mendukung penerapan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) untuk transportasi jalan di Indonesia. [Foto: ANTARA/Aditya Pradana Putra]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Para peneliti di Inggris dan Amerika Serikat telah menemukan cara untuk mendaur ulang baterai kendaraan listrik yang dapat secara drastis memangkas biaya dan emisi karbon, di tengah lonjakan permintaan.

Cara yang digunakan yakni dengan melibatkan pengambilan bagian baterai sehingga dapat digunakan kembali. Cara ini juga diklaim dapat membantu industri otomotif mengatasi kritik bahwa meskipun kendaraan listrik dapat mengurangi emisi selama masa pakainya, namun masih ada jejak karbon berat dari bahan tambang tersebut.

"Kami tidak dapat mendaur ulang produk kompleks seperti baterai sama seperti halnya kami mendaur ulang logam lain. Menghancurkan, mencampur komponen baterai dan pirometalurgi menghancurkan nilai," ucap Gavin Harper, seorang peneliti di Faraday Institution yang didukung pemerintah di Inggris, dikutip dari Reuters pada Jumat, 1 Juli 2021.

Apalagi metode daur ulang saat ini mengandalkan penghancuran baterai menjadi potongan-potongan yang sangat kecil, yang dikenal sebagai massa hitam, yang kemudian diproses menjadi logam seperti kobalt dan nikel.

Dengan peralihan ke teknik yang dikenal sebagai daur ulang langsung, maka akan melestarikan komponen seperti katoda dan anoda, dapat secara drastis mengurangi pemborosan energi dan biaya produksi.

Sebelumnya, para peneliti dari Universitas Leicester dan Universitas Birmingham yang bekerja pada proyek ReLib Institusi Faraday juga telah menemukan cara untuk menggunakan gelombang ultrasonik dalam mendaur ulang katoda dan anoda tanpa menghancurkannya. Cara ini bahkan telah diajukan hak patennya.

Andy Abbott, seorang profesor kimia fisik di Universitas Leicester mengatakan pemisahan menggunakan gelombang ultrasonik akan menghasilkan penghematan biaya 60 persen dibandingkan dengan biaya bahan perawan.

Dibandingkan dengan teknologi yang lebih konvensional, ia mengatakan teknologi ultrasonik dapat memproses bahan baterai 100 kali lebih banyak dalam periode yang sama.

Sementara itu di Amerika Serikat, proyek daur ulang baterai kendaraan listrik ini telah disponsori oleh pemerintah di Departemen Energi yang disebut ReCell.

Di bawah kepemimpinan Jeff Spangenberger, ReCell telah mempelajari banyak metode yang berbeda, termasuk ultrasonik, namun mereka telah berfokus pada metode berbasis termal dan pelarut.

"Untuk membuat daur ulang baterai kendaraan listrik yang menggunakan lithium-ion menguntungkan, tanpa memerlukan biaya pembuangan kepada konsumen, dan untuk mendorong pertumbuhan industri daur ulang, metode baru yang menghasilkan margin keuntungan yang lebih tinggi untuk pendaur ulang perlu dikembangkan," ucap Spangenberger. (TEMPO)

Keyword:


Editor :
Alfatur

riset-JSI
Komentar Anda