DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit virus Hanta setelah tren kasus terkonfirmasi di Indonesia menunjukkan peningkatan dalam dua tahun terakhir.
Kementerian Kesehatan mencatat sejak 2024 hingga Mei 2026 terdapat 256 kasus suspek Hantavirus dengan 23 kasus terkonfirmasi tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Kasus ditemukan di sejumlah wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, hingga Nusa Tenggara Timur.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr. Andi Saguni, mengatakan seluruh kasus yang ditemukan di Indonesia merupakan tipe HFRS dengan strain Seoul Virus.
Ia memastikan hingga saat ini Indonesia belum menemukan kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), jenis Hantavirus yang menyerang sistem pernapasan dan memiliki tingkat fatalitas lebih tinggi.
“Kasus yang terdeteksi di Indonesia merupakan tipe HFRS dan terus kami pantau melalui sistem surveilans nasional,” kata Andi, Senin (11/5/2026).
Data Kemenkes menunjukkan tren kasus terkonfirmasi mengalami kenaikan. Pada 2024 hanya ditemukan satu kasus, kemudian meningkat menjadi 17 kasus sepanjang 2025 dan lima kasus tambahan hingga Mei 2026.
Menurut Kemenkes, meningkatnya angka temuan kasus dipengaruhi penguatan kapasitas deteksi dini dan pemeriksaan laboratorium di berbagai daerah.
Virus Hanta merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Penularan dapat terjadi akibat paparan urin, air liur, maupun kotoran hewan yang terinfeksi.
Risiko penularan meningkat pada lingkungan dengan populasi tikus tinggi, gudang tertutup, area terdampak banjir, hingga aktivitas luar ruang seperti berkemah dan mendaki.
Selain memantau kasus dalam negeri, pemerintah juga merespons laporan internasional terkait kontak erat kasus HPS dari kapal pesiar MV Hondius yang sempat berada di Indonesia.
Kemenkes menyebut individu yang menjadi kontak erat telah menjalani pemeriksaan di RSPI Sulianti Saroso dan hasil laboratorium menunjukkan negatif Hantavirus baik tipe HPS maupun HFRS.
Pemerintah kini memperkuat pengawasan di pintu masuk negara melalui pemantauan suhu tubuh, pengamatan visual, dan surveilans pelaku perjalanan internasional.
Kemenkes juga menyiapkan jejaring laboratorium dengan kemampuan pemeriksaan PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS), serta memperkuat kesiapan 198 rumah sakit rujukan penyakit infeksi emerging di Indonesia.
Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya, serta menyimpan makanan di tempat tertutup untuk mengurangi risiko penularan.
Warga juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri badan, batuk, hingga sesak napas. [in]