Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Wabah Andes Hantavirus di Kapal Pesiar, Tiga Tewas dan Misteri Penularan Diselidiki

Wabah Andes Hantavirus di Kapal Pesiar, Tiga Tewas dan Misteri Penularan Diselidiki

Sabtu, 09 Mei 2026 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Pengujian hantavirus dengan tabung laboratorium berisi cotton bud dan label Hantavirus di samping siluet tikus di latar belakang. [Foto: Ilustasi/Getty Images]


DIALEKSIS.COM | Dunia - Sebuah kapal pesiar ekspedisi yang semula menjanjikan petualangan ke wilayah terpencil dunia justru berubah menjadi episentrum kekhawatiran global. Wabah Andes hantavirus yang muncul di atas kapal MV Hondius menewaskan tiga orang dan menginfeksi sedikitnya delapan lainnya. 

Otoritas kesehatan internasional kini berlomba mengurai misteri: bagaimana virus langka yang biasanya terkait hewan pengerat itu bisa menyebar di ruang terbatas di tengah lautan?

Kapal berbendera Belanda itu berangkat dari Ushuaia pada awal April 2026, membawa 147 orang 88 penumpang dan 59 awak menyusuri jalur ekspedisi ekstrem. Rute perjalanan mencakup wilayah terpencil seperti Antartika, South Georgia, hingga gugusan pulau di Atlantik Selatan yang nyaris tak berpenghuni.

Perjalanan yang semestinya menjadi pengalaman eksklusif itu berubah drastis ketika sejumlah penumpang mulai menunjukkan gejala demam tinggi, gangguan pencernaan, dan sesak napas. Dalam hitungan hari, kondisi beberapa pasien memburuk cepat tiga di antaranya tidak tertolong.

Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization, mengonfirmasi bahwa lima dari delapan kasus telah dipastikan sebagai infeksi hantavirus jenis Andes. Ini merupakan salah satu varian langka yang memiliki karakteristik berbeda: berpotensi menular antarmanusia dalam kondisi tertentu.

Berbeda dengan sebagian besar hantavirus yang hanya menular melalui paparan urine atau kotoran hewan pengerat, Andes virus menjadi pengecualian. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, Centers for Disease Control and Prevention, menyebut penularan bisa terjadi melalui kontak erat dan berkepanjangan, meski tetap terbatas.

Infeksi ini dapat berkembang menjadi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), kondisi serius yang menyerang paru-paru dan dapat berujung fatal. Gejalanya kerap dimulai ringan demam, kelelahan namun bisa memburuk cepat menjadi gangguan pernapasan akut.

Kondisi inilah yang diduga terjadi di atas kapal. Lingkungan tertutup, interaksi intens antarpenumpang, serta keterbatasan fasilitas medis menjadi kombinasi yang memperbesar risiko.

WHO bersama otoritas kesehatan internasional segera merespons. Tim ahli dikerahkan langsung ke kapal untuk melakukan investigasi epidemiologis, pemeriksaan kesehatan menyeluruh, serta pengendalian infeksi.

Sebanyak 2.500 alat diagnostik disiapkan untuk memperkuat kapasitas deteksi di berbagai negara yang berpotensi terdampak. WHO juga menyusun protokol khusus untuk proses evakuasi dan pemulangan penumpang agar tetap aman dan manusiawi.

Sementara itu, European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) menilai risiko penyebaran ke masyarakat luas di Eropa masih sangat rendah. Penilaian serupa juga disampaikan oleh otoritas kesehatan global lainnya: kasus ini serius, tetapi belum menjadi ancaman pandemi.

Yang menjadi pertanyaan besar adalah sumber awal infeksi. Hingga kini, belum ada kepastian apakah virus berasal dari paparan hewan pengerat di salah satu titik perjalanan, atau terjadi penularan antarmanusia sejak awal di atas kapal.

Para ahli menilai, skenario kedua menjadi perhatian utama. Jika terbukti, maka ini akan menjadi salah satu contoh paling nyata penularan Andes virus dalam lingkungan tertutup seperti kapal pesiar.

Namun WHO menekankan, bukti ilmiah masih dikumpulkan. Penyelidikan terus dilakukan untuk memetakan rantai penularan secara utuh.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa bahkan perjalanan ke wilayah paling terpencil sekalipun tidak sepenuhnya bebas risiko penyakit menular. Mobilitas global termasuk melalui kapal pesiar -- dapat membuka celah bagi penyebaran penyakit yang sebelumnya dianggap terbatas secara geografis.

Meski demikian, otoritas kesehatan menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik. Risiko penularan tetap rendah, dan sistem deteksi serta respons global saat ini dinilai cukup kuat untuk mencegah eskalasi lebih luas.

Di tengah laut lepas, wabah ini mungkin terjadi dalam ruang terbatas. Namun gaungnya menjangkau dunia mengingatkan bahwa dalam era konektivitas global, jarak bukan lagi penghalang bagi penyebaran penyakit. [red]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI