Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Nasional / ESDM Ramal Harga Tembaga Terbang hingga 2032, Indonesia Didorong Percepat Hilirisasi

ESDM Ramal Harga Tembaga Terbang hingga 2032, Indonesia Didorong Percepat Hilirisasi

Rabu, 08 April 2026 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Ilustrasi lambang unsur tembaga (Cu). [Foto:Shutterstock]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan harga komoditas tembaga global akan terus mengalami tren kenaikan hingga tahun 2032. Kenaikan ini dipicu oleh ketidakseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand) di pasar dunia.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan bahwa ketimpangan tersebut akan mendorong harga tembaga terus menanjak dalam beberapa tahun ke depan.

“Sampai dengan tahun 2032, maka suplai tembaga dibanding dengan demand tembaga itu sudah mulai tidak imbang, maka harga pasti naik,” ujar Tri, Rabu (8/4/2026).

Data dari London Metal Exchange menunjukkan volatilitas harga tembaga dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, harga masih berada di kisaran US$7.000-8.000 per ton. Namun, lonjakan signifikan terjadi pada awal 2026, ketika harga sempat menyentuh level US$13.000 per ton pada periode Januari-Februari.

Tri menilai, tren kenaikan ini menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat struktur ekonomi nasional melalui kebijakan industrialisasi dan hilirisasi mineral. Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia dapat keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap).

Menurutnya, sektor pertambangan masih akan menjadi tulang punggung kebutuhan global, terutama sebagai penyedia bahan baku industri.

“Material berupa bahan baku dan lain sebagainya itu masih diperlukan bagi negara-negara di dunia ini. Kecuali mereka menggunakan daur ulang, pasti industri ini (pertambangan) masih dibutuhkan ke depannya,” jelasnya.

Ia juga menepis kekhawatiran terkait deindustrialisasi, dengan mencontohkan negara-negara maju yang tergabung dalam G7. Menurutnya, keberhasilan mereka ditopang oleh pemanfaatan bonus demografi yang diiringi industrialisasi secara masif.

Selain faktor sumber daya alam, pemerintah menekankan pentingnya penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai fondasi keberhasilan industrialisasi. Tri menyebut, pengembangan kapasitas SDM nasional saat ini telah mulai berjalan guna mendukung ekosistem industri berbasis hilirisasi. [red]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI