DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat strategi pengendalian produksi ayam ras nasional guna meredam potensi gejolak harga di pasar. Langkah ini dilakukan dengan menyesuaikan pemasukan bibit ayam ras secara lebih terukur agar selaras dengan kebutuhan konsumsi domestik.
Kebijakan tersebut menjadi krusial di tengah fluktuasi harga komoditas pangan, khususnya daging ayam dan telur. Pemerintah menilai, ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan selama ini kerap memicu anjloknya harga di tingkat peternak maupun lonjakan di tingkat konsumen.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Hary Suhada, mengatakan penyesuaian pemasukan bibit menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan pasar.
“Kami terus menyelaraskan perencanaan dan realisasi pemasukan GPS dengan kebutuhan nasional agar produksi tidak berlebih maupun kurang,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang diterima pada Rabu (8/4/2026).
Data sementara menunjukkan realisasi pemasukan GPS broiler mencapai 87.150 ekor day old chick (DOC), sedangkan GPS layer sebanyak 2.995 ekor DOC. Angka ini menjadi acuan pemerintah dalam menyusun proyeksi produksi ke depan agar lebih presisi.
Selain itu, pemerintah mulai mengandalkan skema National Stock Replacement (NSR) sebagai instrumen utama pengendalian pasokan. Melalui mekanisme ini, waktu pemasukan dan distribusi bibit diatur lebih disiplin untuk memastikan suplai tetap stabil sepanjang tahun.
Pakar Tim Analisa Penyediaan dan Kebutuhan Ayam Ras dan Telur Konsumsi, Trioso Purnawarman, menilai keseimbangan produksi menjadi faktor penentu stabilitas pasar.
“Sebaran NSR harus dijaga proporsional agar pasokan berkelanjutan dan harga tidak bergejolak,” katanya.
Di sisi industri, Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Dawami, menegaskan bahwa pengendalian produksi berdampak langsung pada kestabilan harga.
“Jika produksi terkelola dengan baik, maka harga di tingkat peternak dan konsumen bisa tetap stabil,” pungkasnya. [red]