Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Kolom / Kenangan Tarawih

Kenangan Tarawih

Selasa, 22 Mei 2018 15:03 WIB


Oleh: Otto Syamsuddin Ishak

Akibat konflik di Aceh, rupanya sudah sekitar 20 tahun juga saya tidak menikmati ramadhan di Kampus Darussalam. Malam pertama ramadhan, saya menikmati tarawih  di Mesjid Jami’ yang megah, yang dahulu di situ mulai di bangun fundasi bangunan, dengan plang yang bertuliskan: Di sini akan di bangun Universitas Islam Aceh. Begitulah, Darussalam sudah sangat berkembang. Saya termasuk generasi yang mengalami perkembangan itu.

Semua sudah sangat berkembang jika dibandingkan dengan suasana Tarawih tahun 1960-70-an. Pengurus mesjidnya, tampak tidak kesulitan mencari imam dan penceramah. Hal demikian juga sangat berbeda dengan suasana Tarawih 1970-an akhir dan 1980-an awal, yang dikenal sebagai kebangkitan Islam di kampus-kampus di Jawa. Mereka menyebutnya sebagai Ramadhan On Campus. Panitia masih sulit mencari imam, dan penceramah dari setiap fakultas. Bahkan, bilamana ada guru besar yang mau memberikan ceramah, langsung diagendakan.

Dahulu, populasi penduduk, apalagi sarjana masih sangat langka. Saya teringat pada saat takziah Almarhum Profesor Nuryanto, saya dipanggil oleh Profesor Abdullah Ali: “Sini To, dekat Om!” Lalu ia bercerita bahwa saat pertama kali sampai di Darussalam, katanya: “Om tidur di rumah mu, di kamar depan. Kalau sudah abis magrib, banyak kodok di kamar mandi.” Begitulah, rupanya populasi kodok masih lebih besar dari populasi penduduk Darusaalam.

Bila tiba bulan Ramadhan, maka penyelenggaraan shalat Tarawih dilakukan dari rumah ke rumah dosen. Penyediaan makanan pun dipergilirkan. Kami anak-anak, tentu sangat mengharapkan makanan dan minuman yang enak, apalagi kalau abis baca amin yang keras. Suasana menjadi sangat kekeluargaan pada generasi itu. Siang kami main sembunyian dari rumah ke rumah, malam shalat tarawih. Usai shalat, kami pulang berkelompok, karena takut pada hantu.

Memang tentang hantu, terutama setelah masuk magrib, ada api yang berjalan dari depan rumah ke mesjid di Sektor Utara, yang masih berupa bangunan semi-permanen, atau dari Mes ke arah Tugu. Apalagi di persawahan, yang sekarang jadi kompleks UIN, banyak sekali api berjalan, seperti obor, tapi tak ada yang membawa.

Kemudian, populasi meningkat, maka penyelenggaraan shalat Tarawih berpindah ke gedung, yang sekarang dibangun gedung megah, Dayan Dawood. Imam dan penceramah pun bertambah. Namun, tidak ada makanan dan minuman. Ketakutan terhadap hantu masih menguat di antara anak-anak, karena ada pohon besar dan kuburan di dalam kompleks gedung.

Dalam perkembangan selanjutnya, di bangun mushalla di Sektor Selatan, maka Tarawih diselenggarakan pada dua tempat: Mesjid Sektor Utara dan Mushalla Sektor Selatan. Jamaah pun terbelah. Kami diuntungkan dengan beredarnya daftar imam dan penceramah karena bisa mengetahui di mana imam yang cepat dan penceramah yang enak. Selanjutnya, muncul meunasah di Lampoh U, dan mushalla di sektor Timur, maka jamaah terus membelah diri.

Perkembangan populasi tak bisa dihindari, lalu diikuti oleh penambahan sarana yang kian memadai untuk berjamaah. Sekarang ada mesjid, mushalla, meunasah yang dapat menjadi pilihan para warga atau pemukim di Darussalam. Namun, jamaah pun kian terbagi. Lalu, muncul warga yang tidak semuanya saling mengenal lagi. Keakraban pun semakin merenggang.

Pembelahan jamaah terjadi secara alami (sosial), bukan dikarenakan faktor pemahaman keagamaan, khususnya perihal jamaah Tarawih 8 rakaat dan 20 rakaat. Publik di luar ahli agama, membelah diri atas dasar pilihan kenyamanan dan keakraban jamaah.

Sekarang, meskipun ada sejumlah jamaah Tarawih di Darussalam, jamaah yang besar adalah di mesjid Jami’. Imam dan penceramah dari ustaz yang muda-muda. Suaranya beralun merdu. Ceramahnya dengan berbagai topik, namun tak merepresentasikan suasana akademik, yang mana baik Unsyiah maupun UIN Ar-Raniry merupakan pusat pengembangan berbagai ragam keilmuan.

Sekalipun demikian, saya bersyukur atas perkembangan itu semua, karena saya masih bisa bertemu dengan teman-teman segenerasi, baik yang besar di komplek kampus, maupun yang berada di permukiman sekitar Darusaalam, setelah 20-an tahun tidak Tarawih berjamaah bersama. Alhamdulillah atas nikmat Ramadhan ini. *

Editor :
Sammy

Komentar Anda