Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Klinik Kita
Beranda / Kolom / Karena Agama Kita Saling Menjauh

Karena Agama Kita Saling Menjauh

Jum`at, 20 April 2018 12:15 WIB


Karena Tuhan Kita Saling Menjauh

Agama menghendaki orang untuk berkenalan dengan cinta

Tetapi sampai kapanpun, cinta tidak mengenal agama. 

(kutipan dari puisi Silvia Eka Pratiwi)

Realitas beragama akhir-akhir ini seperti cocok dengan penggalan puisi itu. Pemahaman keagamaan yang sempalan telah melahirkan radikalis karena masih rendahnya pemahaman ketauhidan sehingga beragama hanya sekadar ritual-ritual ansic. 

Catatan ini sekadar hasil reka dalam beberapa diskusi kecil, di tengah dinamika keberagamaan kita saat ini, seiring bergeraknya jaman mendekati akhir. Ketika manusia cenderung menggunakan pembenaran atasnama agama lalu menafikan bahhkan memusnakan keberadaan yang lainya—sebenarnya adalah ajaran agama itu sendiri.

Kita mengaku beragama yang benar, berteriak kembali kehati-nurani, mengajak menjadi insan yang rahmatan lil alamin, namun di saat yang sama tidak belajar, tidak mengenali hati nurani, hati yang lurus dan atasnama agama pula menebar kebencian mengajak manusia agar menjadi laknatan lil alamin.

Itulah kekacauan paham beragama, dan tidak akan pernah selesai dan agama seperi telah dijadikan candu yang memporak-porandakan esensi nilai-nilai kebenaran dan kesucian agama itu.

Bagi seorang muslim, sesungguhnya Alquran, kita suci yang tidak ada keraguan atasnya, telah mengajarkan agar pemeluknya mencari ilmu (agama) sebelum beramal. Sebab beragama tanpa ilmu adalah sesat. "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu (pengetahuan) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggung jawaban' (Q>S Al Isra', 36).

Agama menekankan agar umatnya belajar, mencari ilmu (agama) dan tidak hanya taklit pada satu dokrin kebenaran, sehingga menganggap yang lainnya adalah kesesatan. Padahal manusia hanya “kebenaran-kebenaran kecil”, hanya Alah swt yang pemilik “kebenaran multak”, kebenaran hakiki.

Allah swt berfirman, "Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam warna (dan jenisnya). Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warna (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba–Nya, hanyalah yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun. (Q.S:Fathir: 27-28) 

Kata “alam tara” (tidakkah kamu melihat) sebagai ajaran membaca keagungan Allah dan hakikat ciptaan-Nya. Allah menyutuh untuk membaca lembaran-lembaran alam, yang menunjukkan bukti-bukti mengagumkan, akan keagungan Allah, di mana tidak seorang manusia pun yang mampu melakukannya sekalipun didukung dengan segala fasilitas yang dimiliki, bahkan dengan kecanggihan teknologi yang telah mereka capai.

Allah swt mengajak agar manusia segera melakukan iqra’ (membaca). Iqra’ terhadap air hujan yang diturunkan dari langit, darinya pohon-pohon menjadi tumbuh. Iqra’ terhadap aneka warna buah-buahan, garis-garis gunung yang beragam warnanya, tak terkecuali manusia yang beraneka suku, warna dan kebangsaannya.

Iqra’ bukanlah semata pengetahuan, lebih jauh adalah membangun kesadaran kehambaan kepada-Nya. Itulah pesan-pesan dalam kata “Iqra'. Karena beragama mengingkan agar umatnya memiliki ilmu pengetahuan, dan menyadari hakikat dirinya dan tugas-tugas yang harus dicapai untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Menjadi pribadi yang berwawasan luas, bukan sekadar ikut-ikutan, dan mampu menangkap pesan syariat sehingga semua potensinya hanya menuju Allah swt.

Banyak ayat lain dalam Alquran yang menunjukkan pentingnya posisi keilmuan dengan gaya ungkap yang berbeda. Di antaranya ayat fa’lam annahuu lalilaha illallah (QS. 47:19), suatu indikasi bahwa ilmu merupakan fondasi aqidah. Akidah tanpa ilmu akan menjadi hampa. Ia akan menjadi semata tonggak yang mati tidak menggerakkan penganutnya. Semua Ilmu dari Allah.

Orang beragama adalah yang bisa membedakan mana yang suci dan tidak, lalu dia cenderung kepada kesucian. Seperti kata seorang teolog, bahwa beragama harus dilandasi kesadaran, lalu melaksanakan kesadarannya itu. Jangan hanya mengaku beragama tapi cenderung melanggar pengakuan itu.

Kesadaran seseorang tidak bisa dipaksanakan kepada pihak lain, seperti juga keberanaran yang kita anut. Di sinilah perlunya akhlak, dan Rasulullah saw yang memiliki akhlak paling muliadi atas segala akhlak yang mulia, telah memberi contoh bagaimana menyampaikan suatu kebenaran dengan hikmah.Sungguh seorang tidak layak disebut ‘beragama’, ketika atasnama agama dilakukan dengan cara dhalim.(ampuh devayan)


Editor :
Ampuh Devayan

IKLAN SYAMSUL RIZAL ACADEMIC LEADER 2018
Komentar Anda