Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Kolom / Cinta Mereka untuk Aceh

Cinta Mereka untuk Aceh

Minggu, 26 April 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Murthalamuddin

Murthalamuddin, S.Pd., MSP, Kepala Dinas Pendidikan Aceh bersama Taufik Ismail, Fikar W. Eda, dan  Esiyati Yatim. [Foto: doc pribadi/Dialeksis]


DIALEKSIS.COM | Kolom - Siapa yang tidak mengenal sastrawan lintas zaman, Taufik Ismail? Malam itu, saya berkesempatan menemaninya berkeliling kota, lalu berbincang sambil ngopi di Mordeen, Beurawe. Pertemuan itu terjadi berkat ajakan Fikar W. Eda, yang mempertemukan saya dengan sosok besar dalam dunia sastra Indonesia tersebut. Insya Allah, pada Senin, 27 April, beliau bersama rombongan juga akan tampil dalam agenda sastra di SMA Negeri 10 Fajar Harapan.

Sepanjang perjalanan dan perbincangan hangat itu, sang istri, Ibu Esiyati Yatim, banyak bercerita. Yang paling kuat terasa dari tutur katanya adalah cinta mereka kepada Aceh. Dengan penuh ketulusan, beliau menceritakan bahwa dirinya diangkat sebagai anak oleh Ali Hasjmy. Kedatangan mereka kali ini pun bukan sekadar untuk berkunjung, melainkan juga untuk berziarah dan menemui keluarga angkat yang selama ini tetap mereka ingat dengan penuh kasih.

Ibu Esi mengisahkan pula pengalaman mereka saat tampil dalam kegiatan sastra di Jabal Ghafur pada tahun 1986, bersama Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), W.S. Rendra, dan sejumlah sastrawan lainnya. Dari Aceh, hadir pula nama-nama seperti Maskirbi, Hasyim KS, dan para penyair yang kala itu memberi warna penting dalam perjalanan sastra daerah ini.

Pada tahun 2001, mereka kembali datang ke Aceh untuk kegiatan “Siswa Bertanya, Sastrawan Menjawab”. Dalam penuturannya yang runut dan hangat, beliau menyebut satu per satu tokoh serta sastrawan Aceh yang pernah hadir dalam ruang-ruang kesusastraan itu. Ada ketekunan, ada penghargaan, dan ada cinta yang tidak dibuat-buat.

Bahkan saat tsunami melanda Aceh, mereka nyaris tak putus-putusnya datang membawa bantuan dan berbagai program kepedulian. Ketika banjir besar kembali melanda, bantuan pun kembali mereka kirimkan. Sikap itu menunjukkan bahwa bagi mereka, Aceh bukan hanya tempat singgah, melainkan bagian dari sejarah batin yang mereka rawat dengan sungguh-sungguh.

Yang paling mengesankan, keduanya nyaris tidak pernah berbicara tentang Aceh tanpa kebanggaan. Dalam setiap kisah, selalu ada rasa memiliki, rasa hormat, dan rasa sayang yang begitu tulus. Nyaris semua hal positif mengalir dalam pertemuan singkat selama dua jam itu.

Sesekali Bang Fikar dan istrinya ikut menimpali percakapan. Saya lebih banyak mendengar, mengangguk, dan menikmati setiap kisah yang mengalir. Hampir semua sastrawan yang disebutkan Ibu Esi pun pernah saya baca, dan sebagian besar karya mereka masih saya ingat hingga hari ini.

Di sela perbincangan, saya sempat bercerita sedikit tentang program revitalisasi perpustakaan sekolah yang sedang kami upayakan. Saya mengatakan, “Sekarang anak-anak dan guru justru takut ke perpustakaan, karena isi raknya terlalu serius semua.”

Rak-rak itu dipenuhi buku pelajaran lama dan baru, disertai berbagai buku serius lainnya. Buku sastra dan fiksi masih sangat minim. Saya lalu berkelakar, “Saya sendiri kadang takut mengulik rak pustaka, karena terlalu sering ketemu buku tentang surga dan neraka. Kalau soal neraka, saya takut masuk golongan itu. Kalau membaca buku surga, saya takut tidak memenuhi kriterianya. Jadi, lebih baik tidak saya baca.” Kami pun tertawa bersama.

Seperti yang kerap saya jumpai dari orang-orang non-Aceh, ada kebanggaan yang luar biasa ketika mereka berbicara tentang Aceh. Padahal, sering kali justru kami yang tinggal di sini kurang percaya diri, bahkan kadang saling memperolok sesama sendiri. “Kalau kami di sini, tidak bangga bahkan suka memperolok sesama kami,” kata saya.

Menjelang tiba di hotel, saya meminta pasangan suami istri yang telah sepuh itu menandatangani halaman puisi yang mereka hadiahkan kepada saya. Sebuah penutup yang sederhana, tetapi sangat berkesan, dari sebuah pertemuan yang hangat, penuh cerita, dan sarat makna tentang cinta mereka kepada Aceh.

Penulis: Murthalamuddin, S.Pd., MSP, Kepala Dinas Pendidikan Aceh

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI