DIALEKSIS.COM | Indepth - Tertatih-tatih, namun mampu bangkit, bahkan mengejutkan dunia, itulah Iran. Negeri Persia ini dikucilkan, diembargo berkepanjangan mendekati setengah abad. Kini bangkit mampu berdiri tegak.
Dalam kepungan embargo sejak tahun 1979, lebih 45 tahun, semangat untuk bangkit mampu membalikan keadaan. Negara ini akhirnya kuat dan mampu melawan negara super power sekaligus Yahudi.
Pandai mengukur bayang-bayang, karena masih miskin, terkena embargo. Persia dalam mempertahankan diri, membangun kekuatan militer belajar berhemat. Tidak menghamburkan uang untuk menyiapkan persenjataan canggih, seperti jet tempur.
Mereka mengandalkan rudal yang pembiayaanya jauh lebih murah bila dibandingkan dengan senjata super canggih. Namun kekuatan rudal yang mereka persiapkan selama di embargo, mampu mengejutkan dunia.
Cerdas saat dikucilkan dan mampu bangkit ketika diembargo. Iran menggunakan strategi perang asimetris dengan drone dan rudal murah. Seperti Shahed-136 seharga $20rb-$35rb untuk menguras stok rudal pertahanan AS-Israel yang jauh lebih mahal (rudal Patriot $4 juta, Arrow-3 $3 juta per unit).
Isi dunia terkejut, sampai saat ini, Iran masih menunjukan keperkasaanya. Melakukan serangan balasan bertubi tubi dan membuat lawannya “ketar-ketir”, Tel Aviv membara, USA marah, negara pendukung negeri Paman Sam ini juga ikut kena getahnya.
Prinsip hidup bernegara dan semangat perjuangan rakyat Iran telah membuat mereka bangkit. Iran menderita karena embargo ekonomi dan militer yang panjang, terutama dari AS dan Barat sejak 1979.
Negeri Persia ini asetnya dibekukan. Larangan ekspor minyak, dan pembatasan sektor keuangan. Sanksi ini menargetkan program nuklir dan militer Iran, menyebabkan krisis ekonomi, namun Iran tetap bertahan melalui perdagangan bilateral alternatif.
Dari catatan sejarah yang berhasil dirangkum Dialeksis.com, embargo dimulai sejak Revolusi Islam 1979 dan krisis sandera kedutaan AS. Sanksi diperketat pada 1995 (AS) dan 2011-2012 (internasional).
Sanksi ini disebut sebut negara yang memberikan embargo untuk menekan program nuklir, membatasi kegiatan militer, dan merespons dugaan dukungan terhadap terorisme.
Dampaknya, penjualan minyak Iran turun drastis (pernah mencapai di bawah 260.000 barel per hari pada 2019) dan mata uang Iran jatuh. Inflasi tinggi, dan pembekuan aset bank sentral, yang memukul sektor energi dan manufaktur.
Sanksi ini juga memicu krisis ekonomi domestik, kenaikan harga bahan pokok, serta mempersulit transfer dana internasional. Meski begitu, Iran bertahan dengan beralih ke perdagangan bilateral.
PBB memberlakukan embargo senjata yang berakhir pada Oktober 2020, namun diberlakukan kembali secara sepihak oleh beberapa negara.
Dalam situasi krisis Iran bertahan melalui transaksi dengan negara-negara mitra seperti China, Venezuela, dan Korea Utara, serta mengembangkan ekonomi domestik.
Kini, Inggris, Prancis, dan Jerman (E3) memulai kembali mekanisme snapback sanksi karena Iran dinilai melanggar komitmen JCPOA.
Meskipun diembargo, Iran terus berusaha beradaptasi dan membangun kekuatan militer dan ekonomi domestiknya.
Bertahan Jadi kekuatan
Walau diembago, Iran mampu bertahan dan menata diri. Kini dari segi militer, Iran memiliki salah satu arsenal rudal balistik dan jelajah terbesar di Timur Tengah. Rudal ini fokus pada teknologi hipersonik, jangkauan menengah-jauh (1.400“2.000 km), dan kemampuan manuver untuk menembus pertahanan udara.
Rudal utama seperti Fattah-1 dan 2 (hipersonik, Mach 14), Kheibar Shekan, dan Khorramshahr-4 mampu mencapai target di wilayah Israel dalam 12-15 menit.
Rudal Khieber Shekan, merupakan rudal balistik jarak menengah generasi ketiga dengan bahan bakar padat, jangkauan 1.450 km, dan akurasi tinggi. Ada juga Khorramshahr -4 Rudal balistik dengan jangkauan 2.000 km dan hulu ledak berat, mampu melaju mendekati hipersonik.
Iran juga memiliki Rudal Balistik Jarak Menengah (MRBM). Seperti sejil, rudal bahan bakar padat dengan jangkauan hingga 2.000 km. Rudal Emad-1: Rudal balistik dengan maneuverable re-entry vehicle (MaRV) untuk meningkatkan akurasi, jangkauan 1.700 km.
Ghadr-1: Rudal balistik dengan jangkauan hingga 1.950 km. Ada juga Rudal Jelajah (LACM), Paveh: Rudal jelajah serang darat dengan jangkauan 1.650 km, dirancang untuk terbang rendah dan mengecoh radar. Hoveizeh: Rudal jelajah dengan jangkauan sekitar 1.350 km.
Dari berbagai sumber yang berhasil dikutip, Iran memiliki lebih dari 3.000 unit rudal balistik. Negeri ini juga memiliki kemampuan meluncurkan puluhan hingga ratusan rudal secara bersamaan untuk kewalahan sistem pertahanan seperti iron dome.
Iran disebut sebut memiliki pangkalan bawah tanah yang aman untuk menyimpan dan meluncurkan rudal secara cepat.
Mengapa Iran lebih mengandalkan mengandalkan rudal daripada jet tempur? Biaya pembuatan rudal jauh lebih murah, mudah diproduksi dalam negeri, dan efektif untuk pertahanan asimetris, meskipun negara ini berada di bawah sanksi berat.
Rudal, terutama yang hipersonik, mampu menembus sistem pertahanan udara canggih seperti Iron Dome, sementara jet tempur Iran mayoritas adalah model lama dengan suku cadang terbatas, sehingga sulit bersaing di udara.
Iran berhasil mengembangkan teknologi rudal secara mandiri, memungkinkan produksi massal meski ada sanksi internasional, berbeda dengan jet tempur yang memerlukan komponen teknologi tinggi yang sulit didapat.
Keunggulan rudal balistik dan jelajah Iran mampu menghindar dari deteksi dan terbang rendah, membuatnya lebih aman dari pencegatan dibandingkan pesawat konvensional. Iran mengandalkan mobile platform launcher yang sulit dideteksi satelit, memungkinkan mereka melakukan serangan cepat dan bersembunyi.
Sedikit gambaran, perbandingan perkiraan harga senjata Iran dan pertahanan udara lawan (per 2026). Drone Kamikaze (Shahed-136/131), sangat Murah. diperkirakan hanya $20.000 - $35.000 per unit (Rp300 juta - Rp500 jutaan).Rudal Balistik Iran diperkirakan $1 juta - $2 juta (Rp15 miliar - Rp30 miliar) per unit.
Sementara pertahanan Israel/ AS dengan rudal pencegatnya biayanya sangat tinggi. Sistem patriot (AS) sekitar $4 juta (Rp60 miliar) dan Arrow-3 (Israel) $3 juta (Rp45 miliar) per unit.
Karena diembargo, sekaligus sebagai strategi Iran berfokus pada volume tinggi dan biaya rendah, yang secara finansial melemahkan pertahanan udara lawan untuk menggunakan rudal mahal guna menembak drone murah.
Satu rudal balistik Iran seringkali membutuhkan dua hingga tiga rudal pencegat patriot untuk menghancurkannya. Tentunya menciptakan ketimpangan biaya 10 hingga 20 kali lipat.
Saat tertekan, terkena embargo, manusia yang pantang menyerah, akan mampu bangkit. Ibarat air ketika dibendung dia akan mencari celah untuk menggapai dataran rendah walau harus melalui puncak yang tinggi.
Iran sudah membuktikanya, ditekan namun melawan. Walau diembargo hampir setengah abad, namun kini mampu berdiri tegak yang mengejutkan dunia. [bg]