DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ramadan 1447 Hijriah, timun suri kembali menjadi takjil favorit masyarakat Aceh. Buah berwarna kuning pucat dengan aroma khas ini banyak dijual di pasar tradisional hingga lapak musiman di pinggir jalan.
Menjelang waktu berbuka puasa, suasana pasar terlihat ramai. Warga berdatangan untuk membeli berbagai hidangan berbuka, termasuk timun suri yang biasanya diolah menjadi minuman segar dengan campuran sirup dan es batu.
Secara ilmiah, timun suri dikenal dengan nama Cucumis melo L. var. reticulatus Naudin. Meski disebut “timun”, buah ini sebenarnya lebih dekat dengan keluarga melon dan labu-labuan. Teksturnya lembut dan mengandung banyak air sehingga cocok dikonsumsi saat berbuka puasa.
Saifudin, salah seorang penjual timun suri sepanjang jalan Iskandar Muda, Ulee Lheueu, Banda Aceh, mengatakan permintaan meningkat selama Ramadan.
“Setiap hari ada saja yang cari. Harganya sekarang sekitar Rp10.000 sampai Rp20.000 per buah, tergantung ukuran,” ujarnya kepada media dialeksis.com, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, penjualan biasanya meningkat pada sore hari menjelang Magrib. Dalam sehari, ia bisa menjual puluhan buah timun suri.
Salah seorang pembeli, Nurhayati, mengaku selalu membeli timun suri untuk menu berbuka bersama keluarga. “Rasanya segar dan ringan. Anak-anak juga suka. Kalau buka puasa tanpa timun suri rasanya kurang lengkap,” katanya.
Selain menyegarkan, timun suri juga memiliki kandungan air yang tinggi sehingga membantu menghidrasi tubuh setelah seharian berpuasa. Buah ini juga mengandung kalium dan vitamin C yang baik untuk menjaga kesehatan.
"Timun Suri jadi andalan favorit kami dalam berbuka puasa, harganya murah juga," tutupnya. [nh]