Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Gaya Hidup / Psikolog: Kesiapan Mental Penting sebelum Anak Gunakan Media Sosial

Psikolog: Kesiapan Mental Penting sebelum Anak Gunakan Media Sosial

Senin, 09 Maret 2026 23:15 WIB

Font: Ukuran: - +


Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Ayoe Sutomo, dalam Kelas Digital Sahabat Tunas: Tunggu Anak Siap di Garuda Spark Innovation Hub, Jakarta, Senin (9/3/2026). (Foto: Immanuel Kristi Wijaya/IGID) 


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Ayoe Sutomo, mengingatkan bahwa kecanduan penggunaan gawai dan media sosial dapat memberikan dampak serius terhadap perkembangan otak dan kehidupan anak, bahkan memiliki pola risiko yang serupa dengan berbagai bentuk adiksi lainnya.

Menurut Ayoe Sutomo, ketika penggunaan media sosial sudah masuk pada tahap adiksi, maka kondisi tersebut tidak lagi sekadar kebiasaan, tetapi sudah menjadi gangguan yang dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan seseorang.

“Kalau sudah disebut adiksi, artinya itu sama dengan berbagai bentuk bahaya lain. Proses kerusakan pada otak juga bisa terjadi. Ketika sudah adiksi, biasanya aktivitas lain dalam kehidupan individu mulai terganggu,” ujar Ayoe dalam "Kelas Digital Sahabat Tunas: Tunggu Anak Siap" di Garuda Spark Innovation Hub, Jakarta, Senin (9/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa adiksi terjadi ketika seseorang sulit melepaskan diri secara emosional maupun kognitif dari sumber ketergantungannya. Akibatnya, berbagai aktivitas penting seperti belajar, bersosialisasi, hingga mengeksplorasi pengalaman baru menjadi terhambat.

Menurut Ayoe, kondisi ini sangat berisiko terutama bagi anak dan remaja yang masih berada dalam fase perkembangan. 

“Bayangkan ketika anak yang seharusnya belajar, berteman, dan mengeksplorasi banyak hal justru terjebak dalam satu aktivitas saja. Itu tentu tidak baik untuk perkembangan mereka, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang,” jelas psikolog lulusan Universitas Tarumanegara Jakarta itu.

Ia juga menekankan bahwa kesiapan anak untuk memasuki ruang digital tidak hanya diukur dari kemampuan teknis menggunakan gawai, tetapi juga dari kesiapan psikologis dan emosional.

Banyak orang, kata Ayoe, menganggap anak sudah siap menggunakan media sosial hanya karena mampu mengoperasikan perangkat digital, seperti mengetahui cara mengirim pesan, memberi tanda suka, atau berkomentar.

Padahal, kesiapan yang sebenarnya jauh lebih kompleks. “Siap itu bukan hanya soal bisa menggunakan gadget secara teknis. Anak juga harus memiliki kemampuan mengontrol diri, mengelola emosi, serta memiliki literasi digital yang baik,” kata psikolog yang berpraktik di Klinik Citra Ardhita Medifarma.

Lebih lanjut, Ayoe Sutomo menjelaskan bahwa kemampuan kontrol diri menjadi salah satu indikator penting kesiapan anak dalam menggunakan media sosial.

Anak perlu mampu membatasi diri ketika harus mengerjakan tugas sekolah, berinteraksi langsung dengan teman, maupun melakukan aktivitas lain tanpa terus-menerus bergantung pada gawai.

Selain itu, anak juga perlu memiliki kemampuan mengelola emosi, karena media sosial sering kali menghadirkan interaksi sosial yang dapat memengaruhi kondisi psikologis pengguna.

Menurutnya, komentar negatif, kurangnya respons terhadap unggahan, atau perbandingan dengan pengguna lain dapat memengaruhi kepercayaan diri anak. 

“Ketika seseorang memposting sesuatu dan tidak mendapat respons seperti yang diharapkan, itu bisa memengaruhi emosi dan konsep diri, terutama bagi remaja yang masih dalam tahap pencarian jati diri,” jelas Ayoe Sutomo.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah literasi digital. Anak perlu memahami bahwa setiap unggahan di internet dapat tersebar luas dan memiliki konsekuensi jangka panjang.

Anak juga perlu memahami bahwa perilaku yang tidak boleh dilakukan di dunia nyata juga tidak boleh dilakukan di dunia digital, seperti memberikan informasi pribadi kepada orang asing atau melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Karena itu, menurut Ayoe, pembatasan akses terhadap platform digital bagi anak melalui kebijakan seperti PP Tunas dapat menjadi langkah perlindungan yang penting.

Ia menilai pembatasan tersebut tidak berarti menghilangkan kesempatan anak untuk berkembang, melainkan memberi waktu bagi mereka untuk membangun kesiapan yang diperlukan.

Ayoe juga mendorong orang tua dan sekolah untuk aktif berdiskusi dengan anak mengenai perubahan kebijakan ini, termasuk membantu anak menemukan aktivitas alternatif yang dapat menggantikan penggunaan media sosial secara berlebihan. “Kreativitas justru akan lebih berkembang ketika anak banyak berinteraksi secara langsung dengan orang lain, berbicara, berdiskusi, dan melakukan aktivitas nyata,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak ketika menghadapi perubahan kebiasaan penggunaan media sosial.

Menurut Ayoe Sutomo, anak perlu didengar terlebih dahulu sebelum diajak memahami alasan di balik kebijakan tersebut. 

“Kadang penolakan muncul bukan karena benar-benar menolak, tetapi karena belum memahami alasan di balik aturan itu. Karena itu penting untuk mendengar perasaan anak, memvalidasi emosinya, lalu berdiskusi bersama,” katanya.

Dengan pendekatan komunikasi yang tepat, Ayoe berharap kebijakan perlindungan anak di ruang digital dapat dipahami sebagai upaya bersama untuk memastikan anak-anak tumbuh secara sehat di era teknologi.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI