DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kebiasaan makan anak sejak usia dini dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Pola konsumsi yang tidak seimbang disebut dapat berdampak pada tumbuh kembang, daya tahan tubuh, hingga kemampuan kognitif anak.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendorong penerapan pola makan Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA) melalui program B2SA Goes to School. Program ini menyasar siswa sekolah dasar sebagai upaya membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini.
Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas Rinna Syawal mengatakan, pembiasaan pola makan sehat perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang.
“Makan sehat bukan hanya kewajiban, tetapi investasi untuk masa depan,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima pada Rabu (22/4/2026).
Ia menekankan bahwa pilihan makanan yang dikonsumsi anak sehari-hari akan berpengaruh langsung terhadap kualitas kesehatan dan produktivitas mereka di masa depan. Karena itu, edukasi gizi dinilai tidak cukup hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga harus diperkuat di lingkungan keluarga.
“Pembiasaan makan sehat tidak bisa ditunda. Apa yang dikonsumsi anak hari ini akan menentukan kualitas kesehatannya di masa depan. Karena itu, peran keluarga dan sekolah sangat penting dalam membentuk pola makan yang tepat sejak usia dini,” tegas Rinna.
Menurut Rinna, anak perlu dikenalkan sejak dini pada konsep konsumsi pangan yang beragam, termasuk pemanfaatan pangan lokal. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga mendukung penguatan ketahanan pangan nasional.
“Pangan lokal harus menjadi pilihan utama. Dengan mengenal dan mengonsumsi pangan lokal, kita tidak hanya menjaga kesehatan, tetapi juga turut memperkuat ketahanan pangan nasional,” pungkasnya. [red]