Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Gaya Hidup / Dokter Spesialis Gizi USK: Persiapkan Pola Makan Seimbang untuk Menjaga Stamina Selama Ramadan

Dokter Spesialis Gizi USK: Persiapkan Pola Makan Seimbang untuk Menjaga Stamina Selama Ramadan

Selasa, 17 Februari 2026 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Dokter spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, dr. Iflan Nauval, MScIH, Sp.GK, menekankan bahwa pengaturan asupan gizi sebaiknya sudah mulai diperhatikan beberapa hari sebelum Ramadan. [Foto: dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ramadan 1447 Hijriah diproyeksikan mulai pada 19 Februari 2026. Selain kesiapan spiritual, bulan puasa juga memerlukan kesiapan fisik yang matang. Perubahan jadwal makan, pola tidur, serta ritme aktivitas harian selama hampir satu bulan menuntut tubuh untuk beradaptasi secara metabolik.

Dokter spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, dr. Iflan Nauval, MScIH, Sp.GK, menekankan bahwa pengaturan asupan gizi sebaiknya sudah mulai diperhatikan beberapa hari sebelum Ramadan. Menurutnya, kualitas dan komposisi makanan saat sahur dan berbuka sangat menentukan stabilitas energi, daya tahan tubuh, serta konsentrasi selama berpuasa.

“Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi tentang bagaimana tubuh tetap memperoleh nutrisi yang adekuat dan seimbang. Karbohidrat kompleks, protein yang cukup, lemak sehat, serta vitamin dan mineral tetap harus terpenuhi,” ujarnya kepada Dialeksis, Selasa (17/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa karbohidrat kompleks seperti beras merah, roti gandum utuh, dan umbi-umbian memiliki indeks glikemik yang lebih rendah sehingga dicerna lebih lambat. Proses ini membantu mempertahankan rasa kenyang lebih lama dan menjaga kestabilan kadar gula darah sepanjang hari. Asupan protein dari telur, ikan, ayam, tahu, dan tempe juga penting untuk mempertahankan massa otot serta mencegah kelelahan berlebihan selama puasa.

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada pola konsumsi tinggi gula dan lemak saat berbuka. Lonjakan gula darah yang terjadi secara cepat dapat diikuti penurunan energi yang drastis. 

“Mengonsumsi kurma atau minuman manis saat berbuka boleh dilakukan untuk mengembalikan kadar glukosa, tetapi tetap dalam jumlah wajar dan diikuti makanan utama yang bergizi seimbang,” jelasnya.

Selain komposisi makanan, kecukupan cairan juga menjadi faktor kunci. Kebutuhan air sekitar enam hingga delapan gelas per hari dapat dipenuhi secara bertahap antara waktu berbuka hingga sahur. Ia menyarankan pembatasan minuman berkafein berlebihan karena sifat diuretiknya dapat meningkatkan risiko dehidrasi.

Dari sisi pola makan, ia merekomendasikan pendekatan bertahap saat berbuka: dimulai dengan porsi ringan, kemudian dilanjutkan makan utama setelah salat Magrib. Strategi ini membantu sistem pencernaan beradaptasi dan mengurangi risiko gangguan lambung.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas tidur. Kurang tidur dapat memengaruhi regulasi hormon, metabolisme energi, serta respons imun. Ramadan seharusnya menjadi momentum menjaga keseimbangan, bukan mengabaikan kebutuhan istirahat.

Bagi kelompok dengan kondisi medis tertentu -- seperti diabetes, hipertensi, ibu hamil, dan lansia -- konsultasi dengan tenaga kesehatan sangat dianjurkan untuk penyesuaian pola makan maupun terapi obat selama puasa.

Menurutnya, persiapan nutrisi yang baik bukan semata-mata untuk menjaga kebugaran fisik, tetapi juga untuk mendukung kualitas ibadah. 

“Tubuh yang terjaga kesehatannya akan membantu kita menjalani Ramadan dengan lebih fokus, produktif, dan khusyuk,” tutupnya. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI