Minggu, 05 Juli 2026
Beranda / Gaya Hidup / Akun Medsos Aktif Tapi Kosong, Ini Kata Psikolog

Akun Medsos Aktif Tapi Kosong, Ini Kata Psikolog

Minggu, 05 Juli 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Psikolog klinis sekaligus Direktur Psikodista Konsultan, Nur Janah Al Sharafi Nitura. Foto: doc Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Aceh - Media sosial yang dulu menjadi ruang utama untuk memamerkan aktivitas, foto, pencapaian, hingga kehidupan pribadi, kini mulai mengalami pergeseran perilaku. Sebagian anak muda, terutama dari kalangan Gen Z, memilih tetap aktif di media sosial, tetapi tidak lagi mengunggah konten di akun utama mereka.

Fenomena ini dikenal dengan istilah *zero posting*. Akun tetap ada, penggunanya tetap membuka aplikasi, melihat unggahan orang lain, menonton video, mengirim pesan, atau memantau tren. Namun, ruang unggahan pribadi dibiarkan kosong, minim foto, bahkan tidak menampilkan aktivitas apa pun.

Fenomena tersebut menjadi perhatian setelah Tempo mengulas kecenderungan anak muda yang berhenti mengunggah konten ke akun media sosial. Dalam ulasan itu, *zero posting* disebut sebagai salah satu cara generasi muda menjaga jejak digital dan kesehatan mental di tengah tekanan dunia maya.

Psikolog klinis sekaligus Direktur Psikodista Konsultan, Nur Janah Al Sharafi Nitura, menilai fenomena tersebut tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai tanda anak muda menjauh dari media sosial. Menurutnya, yang terjadi justru perubahan cara generasi muda mengelola ruang digitalnya.

“Tren anak muda yang mulai enggan memposting konten mencerminkan perubahan budaya sekaligus perkembangan psikologis yang sedang terjadi. Bagi banyak orang, media sosial kini tidak lagi menjadi tempat untuk mencari validasi, melainkan sekadar alat komunikasi dan hiburan,” ujar Nur Janah kepada Dialeksis.com, Minggu (5/7/2026).

Menurut Nur Janah, anak muda saat ini semakin menghargai privasi, keseimbangan hidup, serta pengalaman yang benar-benar dijalani, bukan sekadar ditampilkan kepada publik. Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran dari budaya “hidup untuk dilihat dan diakui orang lain” menuju kesadaran baru bahwa hidup seharusnya dijalani dengan lebih bermakna.

“Ini menunjukkan pergeseran dari budaya hidup untuk dilihat dan diakui oleh orang lain atau publik, menjadi hidup untuk dijalani dengan lebih bermakna,” katanya.

Nur Janah menjelaskan, anak muda sekarang bukan berarti tidak aktif di media sosial. Mereka tetap aktif, tetapi lebih selektif dalam menampilkan diri. Ada kesadaran baru bahwa apa yang diunggah hari ini bisa menjadi jejak digital yang panjang dan suatu saat dapat memengaruhi citra diri, relasi sosial, bahkan masa depan mereka.

Menurutnya, perilaku tidak mengunggah konten bisa muncul karena beberapa faktor. Pertama, meningkatnya kesadaran terhadap privasi. Anak muda mulai memahami bahwa media sosial bukan lagi ruang yang sepenuhnya personal. Setiap unggahan dapat dilihat, disimpan, dibagikan ulang, atau ditafsirkan berbeda oleh orang lain.

“Bagi sebagian anak muda, tidak mengunggah konten adalah cara melindungi batas pribadi. Mereka tidak ingin seluruh fase hidupnya terekam dan dikonsumsi publik. Ini bentuk kontrol diri terhadap identitas digital,” jelasnya.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah berkembangnya kematangan emosi. Nur Janah menyebut, semakin matang seseorang secara emosional, semakin besar kemampuannya untuk memilah mana yang perlu dibagikan dan mana yang cukup dinikmati secara pribadi.

Ia juga menyoroti fenomena kelelahan sosial atau *social fatigue*. Dalam banyak kasus, aktivitas mengunggah konten tidak lagi terasa sebagai kegiatan ringan atau menyenangkan, melainkan berubah menjadi tuntutan. Seseorang merasa harus tampil, harus membuat konten di jam tertentu, harus menjaga citra, dan harus terus terlihat aktif.

“Kelelahan sosial bisa membuat individu merasa bahwa postingan bukan lagi kegiatan refreshing yang sukarela, tetapi menjadi tuntutan atau keharusan. Ngonten terasa seperti pertunjukan yang harus dipersiapkan,” ujar Nur Janah.

Selain itu, rasa takut dinilai atau *fear of evaluation* juga menjadi alasan banyak anak muda berhenti memposting konten. Mereka khawatir dianggap pamer, takut unggahannya tidak disukai banyak orang, takut salah bicara, atau takut mendapat komentar negatif.

“Sekarang anak muda lebih sadar bahwa satu unggahan bisa memancing banyak tafsir. Ada rasa takut dihakimi, takut disalahpahami, takut dibilang pamer, atau takut jumlah yang menyukai unggahan sedikit. Karena itu, sebagian memilih aman dengan tidak membuka terlalu banyak ruang pribadi,” katanya.

Nur Janah menambahkan, perbandingan sosial yang melelahkan juga dapat membuat individu mulai mengurangi aktivitas unggahan, bahkan berhenti sepenuhnya. Media sosial sering menciptakan standar tidak tertulis tentang kehidupan ideal: harus terlihat bahagia, menarik, sukses, populer, memiliki relasi yang baik, dan diterima banyak orang.

“Ketika media sosial berubah menjadi ruang pembandingan diri, anak muda bisa merasa tidak cukup baik. Mereka membandingkan wajah, gaya hidup, pertemanan, prestasi, hingga hubungan asmara. Dalam situasi seperti itu, memilih diam atau tidak mengunggah apa pun bisa menjadi mekanisme perlindungan psikologis,” jelasnya.

Di sisi lain, Nur Janah melihat fenomena ini juga bisa menjadi tanda positif. Kontrol diri yang lebih baik membuat individu tidak lagi terlalu bergantung pada validasi orang lain. Mereka mampu menikmati hidup tanpa harus selalu mencari pengakuan publik melalui jumlah *likes*, komentar, atau pengikut.

“Individu yang memiliki kontrol diri lebih baik tidak terlalu butuh validasi dari orang lain. Ia mampu menikmati hidup tanpa bergantung pada pengakuan publik. Bahkan, ketika identitas dirinya semakin stabil, ia akan merasa lebih aman terhadap dirinya sendiri,” ujarnya.

Meski demikian, Nur Janah mengingatkan bahwa fenomena *zero posting* tidak selalu lahir dari alasan positif. Dalam beberapa kondisi, berhenti mengunggah konten juga bisa berkaitan dengan tekanan psikologis tertentu, seperti stres berat, *burnout*, kecemasan sosial, gejala depresi, konflik interpersonal, atau rasa rendah diri yang meningkat.

Menurutnya, seseorang yang sedang mengalami stres berat atau *burnout* bisa merasa bahwa aktivitas memposting justru menambah beban. Ada kekhawatiran bahwa unggahan akan memicu tekanan baru, memperbesar konflik, atau membuka ruang bagi penilaian publik yang tidak diinginkan.

“Kalau seseorang mengalami kecemasan sosial, respons publik terhadap postingan bisa menjadi sumber kekhawatiran. Pada individu dengan gejala depresi, postingan juga bisa memicu emosi galau atau kesedihan. Begitu juga dalam kondisi konflik interpersonal, ada kekhawatiran unggahan justru memperkeruh keadaan,” kata Nur Janah.

Karena itu, ia menilai penting untuk melihat motif di balik keputusan seseorang berhenti memposting konten. Jika pilihan itu lahir dari kesadaran menjaga privasi, keseimbangan hidup, dan kesehatan mental, maka hal tersebut dapat dinilai sebagai langkah sehat. Namun, jika dilandasi rasa takut berlebihan, kecemasan ekstrem, menarik diri dari lingkungan sosial, atau merasa tidak berharga, maka kondisi itu perlu mendapat perhatian.

“Yang perlu dilihat adalah motifnya. Kalau tidak posting karena sadar privasi, itu sehat. Tetapi kalau tidak posting karena takut ekstrem terhadap penilaian orang, merasa rendah diri, atau cemas berlebihan, maka perlu dukungan psikologis,” jelasnya.

Dalam konteks Aceh, Nur Janah menilai fenomena ini juga relevan dengan nilai sosial masyarakat yang masih kuat dalam menjaga nama baik keluarga, kehormatan diri, dan etika pergaulan. Anak muda Aceh, katanya, berada di antara dua ruang sekaligus: ruang digital yang sangat terbuka dan norma sosial lokal yang menuntut kehati-hatian.

“Anak muda Aceh hidup dalam masyarakat yang masih memperhatikan adab, reputasi, dan pandangan sosial. Maka wajar bila sebagian dari mereka lebih berhati-hati dalam mengunggah sesuatu. Ini bisa menjadi kekuatan jika diarahkan pada literasi digital yang sehat,” katanya.

Nur Janah mendorong orang tua dan pendidik tidak buru-buru menilai anak muda yang jarang mengunggah konten sebagai tertutup, antisosial, atau tidak percaya diri. Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki cara berbeda dalam membangun relasi. Sebagian lebih nyaman berinteraksi melalui pesan pribadi, grup kecil, atau fitur terbatas seperti *close friends*.

“Orang tua jangan hanya melihat dari jumlah postingan. Yang lebih penting adalah bagaimana kondisi emosional anak, bagaimana relasi sosialnya, apakah ia tetap produktif, punya teman, punya kegiatan, dan mampu mengekspresikan diri dengan sehat,” ujarnya.

Ia menambahkan, apa pun alasannya, baik positif maupun negatif, fenomena ini dapat menjadi indikator munculnya kesadaran individu untuk menggunakan media sosial secara lebih proporsional. Sebab, pola penggunaan media sosial sangat berkaitan dengan kesehatan mental penggunanya.

“Apapun alasannya, baik positif maupun negatif, fenomena ini bisa menjadi indikator kesadaran individu untuk menggunakan media sosial secara proporsional, karena hal itu juga memengaruhi kesehatan mental penggunanya,” kata Nur Janah.

Karena itu, ia menilai kampanye penggunaan media sosial secara sehat perlu terus diperkuat. Edukasi kesehatan mental juga harus menjadi bagian penting dari literasi digital, terutama bagi generasi muda yang tumbuh dalam ekosistem internet, algoritma, dan tekanan sosial virtual.

“Kampanye penggunaan media sosial secara sehat serta edukasi kesehatan mental diharapkan dapat berkontribusi untuk membangun generasi sehat mental pada saat ini dan masa depan,” ujarnya.

Fenomena *zero posting* akhirnya menunjukkan bahwa generasi muda tidak selalu ingin hilang dari media sosial. Mereka hanya sedang mencari cara baru untuk hadir: tetap terkoneksi, tetapi tidak sepenuhnya terbuka; tetap mengikuti perkembangan, tetapi menjaga ruang pribadi; tetap menjadi bagian dari dunia digital, tetapi tidak membiarkan seluruh hidupnya dikendalikan oleh algoritma.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes