Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Feature / Final Data Banjir Bandang di Aceh Tengah

Final Data Banjir Bandang di Aceh Tengah

Kamis, 22 Januari 2026 18:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bahtiar Gayo
Perkebunan kopi yang luluh lantak diterjang banjir bandang, manusia berusaha menyelamatkan diri. [Foto: Dok For Dialeksis.com)

DIALEKSIS.COM | Feature - Pagi, siang, malam mereka mengumpulkan yang terserak. Menjelajahi kubangan lumpur, melintasi puing-puing kehancuran demi mendapatkan angka-angka.

Demi tidak bertambahnya duka korban, ketika mereka dilanda praha, namun data untuk mereka terlewatkan. Angka-angka kehancuran itu mereka kais dari reruntuhan. Verifikasi juga dilakukan berlapis, peluh keringat itu akhirnya melahirkan angka final.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah akhirnya memfinalkan data kerusakan akibat sapuan banjir bandang yang melanda negeri penghasil kopi ini pada 26 November 2025 lalu.

Data kerusakan rumah misalnya, sebelumnya 4.426 unit, namun setelah dilakukan verfikasi berlapis, mengalami pengurangan 205 unit. Kini data kerusakan rumah di Aceh Tengah 4.221 unit, dengan rincian 1.958 rusak berat, 500 sedang dan 1.763 ringan.

Menurut Andalika, Kalaks BPBD Aceh Tengah, verifikasi berlapis itu dilakukan agar tidak ada yang terlewatkan dan salah infut data, sehingga mempengaruhi masyarakat yang terkena musibah, jelasnya Kamis (22/01/2026) menjawab Dialeksis.com.

Bila sebelumnya ada yang masuk rumahnya dalam kerusakan berat, namun setelah diverifikasi masuk dalam klasifikasi sedang. Demikian dengan klasifikasi sedang, namun kerusak berat, karena ada banjir susulan.

“Untuk rumah yang rusak kami melakukan verifikasi langsung dilapangan. Petugas mengunjungi satu persatu rumah yang terkena musibah. Dari hasil lapangan klasifikasi itu ditetapkan. Kami sudah melakukan uji petik,”sebut Iwan Januari, Kadis Perkim Aceh Tengah.

Dari data final ini, Kecamatan Bintang berada di atas angka kerusakan rumah penduduk terkena musibah mencapai 1.042 unit. 350 mengalami rusak berat, 184 sedang dan 508 rusak ringan.

Disusul Kecamatan Linge 764 rumah rusak (563 berat, 74 sedang dan 127 ringan). Kemudian kecamatan Kebayakan, 579 unit rumah (142 rusak berat, 58 sedang, dan 379 ringan).

Kecamatan Ketol ada 535 rumah mengalami kerusakan (367 berat, 32 sedang dan 136 ringan). Kecamatan Rusip Antara ada 382 unit rumah (275 berat, 28 sedang dan 79 ringan).

Selanjutnya Kecamatan Lut Tawar, 347 unit rumah mengalami kerusakan, 74 berat, 35 sedang dan 238 ringan. Kecamatan Silih Nara ada 200 unit rumah, 51 berat, 25 sedang dan 124 rusak ringan.

Kecamatan Celala ada 149 unit rumah, 45 rusak berat, 32 sedang dan 72 ringan. Selanjutnya Kecamatan Pegasing113 unit rumah, 45 berat, 11 sedang dan 57 ringan. Kecamatan Bebesen 46 unit rumah, 21 rusak berat, 8 sedang dan 17 ringan.

Kecamatan Kute Panang ada 26 unit, 11 rusak berat, 6 sedang dan 9 ringan. Kecamatan Atu Lintang ada 19 unit, 5 berat, 1 sedang dan 13 ringan. Kecamatan Jagong Jeget ada 13 unit, 9 rusak berat dan 4 rusak sedang dan Kecamatan Bies ada 6 unit rumah, dua rusak sedang dan 4 rusak ringan.

Sawah dan Kebun

Untuk persawahan dan perkebunan jumlah kerusakanya juga menunjukan angka yang besar, untuk kebun mencapai 12.637 hektar, semuanya mengalami rusak berat. Sawah mencapai 2. 765, angka ini menurun dibandingkan data sebelum final di angka 2.787 hektar.

Dari luas area sawah ini, 1.502 rusak berat, 425 hektar rusak sedang dan 1.288 hektar rusak ringan. Untuk kolam rusak ringan 18,61 Ha, sedang sedang 5,88 Ha dan rusak berat 23,93 Ha.

Untuk hortikultura jenis lahan cabai angka kerusakanya mencapai 4.139 ha. 635 rusak berat, 2096 rusak ringan dan 1.408 ha mengalami rusak sedang. Tanaman jagung mencapai 11,22 hektar.

Keramba jaring apung, 0,19 Ha rusak ringan, 0,08 Ha sedang dan rusak berat 0,17 Ha. Untuk keramba tancap rusak ringan 0,10 Ha, sedang 0,01 Ha dan berat 0,31 Ha. Usaha pembenihan, rusak ringan 0.26 ha, sedang 0,04 Ha dan berat 6,03 Ha.

Diantara amukan musibah itu, ada juga perahu nelayan yang hilang, jumlahnya mencapai 27 unit dan jaring ikan yang hilang mencapai 357 unit.

Musibah ini juga memporak porandakan sektor parawisata, baik rumah makan, resto dan caffe , 3 unit rusak ringan, 7 unit sedang dan 9 mengalami kerusakan berat.

Untuk infrastuktur 4 unit jalan nasional mengalami rusak berat. Jalan provinsi ada 7 unit mengalami rusak berat dan dan 104 unit jalan kabupaten (96 ruas rusak berat dan 8 sedang), serta 282 unit jalan produksi mengalami rusak berat.

Jembatan nasional total kerusakan mencapai 95 unit, 11 unit rusak berat, 3 unit sedang dan 80 unit rusak ringan.Jembatan desa 179 unit mengalami rusak berat. Embung juga mengalami kerusakan, ada 12 rusak ringan.

Sumber penghidupan masyarakat lainya berupa air bersih kerusakanya mencapai 101 unit, 99 rusak berat dan 2 unit rusak ringan.

Tidak kalah rusaknya soal jalan lingkunga, kondisinya dilapangan hancur hancuran, angka kerusakanya mencapai 84.605 meter (750 meter ringan, 1600 meter sedang dan 82.225 meter mengalami rusak berat).

Drainase lingkunganmencapai 109.186 meter kerusakan berat mencapai 104.086 meter, sedang 2.900 meterdan ringan 2.200 meter. Kerusakan juga melanda sarana PDAM, ada 11 unit mengalami kerusakan berat.

Pasar juga mengalami kerusakan, ada 15 unit, 3 unit rusak berat, 8 unit sedang dan 4 unit rusak ringan. Kios 279 mengalami kerusakan, 174 rusak berat, rusak ringan 105 unit. Ruko ada 161 unit mengalami kerusakan semuanya masuk klasifikasi rusak berat. Industri kecil dan menengah ada 37 unit, 26 rusak berat, 8 sedang dan 3 unit rusak ringan.

Aceh Tengah dikenal dengan kawasan obyek wisata, bagaimana kerusakan obyek wisata di negeri dingin ini? Angka kerusakanya cukup tinggi mencapai 86 unit, 44 unit diantaranya rusak berat,25 rusak sedang dan 17 unit rusak ringan.

Penginapan dan homestay ada 19 unit, 4 rusak berat, 3 sedang dan 12 unit rusak ringan. Sarana olah raga mencapai 74 unit mengalami kerusakan.

Koperasi/ UMKM ada 124 unit yang rusak berat, 32 sedang dan 69 rusak ringan. Untuk kesehatan ada 3 Puskesmas, 32 polindes, dan 4 unit Pustu.

Untuk dunia pendidikan, TK/ PAUD ada 16 unit, 4 ringan, 4 sedang dan 8 rusak berat. SD ada 44 unit, 16 unit ringan, 20 sedang dan 8 unit rusak berat. SMP 18 unit, 8 ringan, 4 sedang dan 6 rusak berat.

SMA ada 6 unit semuanya rusak berat. . Madrasyah (RA) ada 7 unit, 5 unit rusak ringan dan 2 unit rusak berat. MI ada 13 unit, 10 sedang dan 3 rusak berat, MT 7 unit, 1 ringan, dua sedang dan 4 berat. MA ada 7 unit, 1 ringan, 4 seda ng dan dua unit ringan.

Masjid juga mengalami kerusakan mencapai 43 unit, 24 rusak berat, 15 sedang dan 4 ringan. Menasah 92 unit, 38 berat, 30 sedang dan 24 ringan. Pesantren/ dayah ada 8 unit, 3 rusak berat, 5 rusak sedang.

1 kantor Camat mengalami kerusakan ringan, 10 kantor reje (3 sedang dan 7 berat) satu unit panti asuhan, 4 unit perpustakaan desa, 5 unit balai penyuluhan, satu unit Puskeswan dan 9 unit Balai KB Kecamatan.

Angka angka itu bila dicermati dengan seksama, goresanya mengerikan, mengambarkan bagaimana luluh lantaknya sebuah negeri. Tanah yang subur, selama ini menjadi idola karena fanorama alamnya, hasil pertanian dan budaya, dalam sekejab luluh lantak diterjang banjir bandang.

Bahkan masa tanggap darurat diperpanjang hingga akhir Januari 2026. Masih ada perkampungan yang terisolasi. Angka angka itu memang mengerikan. [bg]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI