DIALEKSIS.COM| Indept- “Raaaaannnn raaaan, ruuuunnnnn,” raungan sekitar 300 kuda besi memecah kesunyian alam diantara hembusan angin pepohonan pinus. Sebuah sejarah yang belum pernah terjadi di negeri bekas kerajaan yang telah melahirkan raja terkemuka Aceh ini.
Raungan sepeda motor itu sebagai ucapan salam untuk bumi yang terluka diamuk banjir bandang. Salam untuk nyawa yang meninggalkan raga dan perkampungan yang hilang. Salam persembahan bakti untuk tanah leluhur.
Di seberang sungai, raungan kuda besi itu disambuk dengan pekikan “Allahuakbar” dari mulut mereka yang hidup dalam bayang bayang maut. Ada linangan air mata haru menyambut kedatangan relawan untuk membalut luka.
Kawasan hutan pinus yang sepi itu dibanjiri lautan manusia. Sehari sebelumnya, Sabtu (3/1/2026) raungan chainsaw di sana sudah menggema. Relawan yang hadir ke sana bukan untuk merusak alam, namun memanfatkan kayu besar amukan banjir untuk menyelamatkan manusia yang terisolir, kini hidup di tenda pengungsian.
Relawan Tanpa Batas Jagong Jeget, hadir ke sana untuk membuat jembatan apung, agar bisa dilalui kenderaan roda roda. Sejak musibah yang melanda negeri ini, warga di sana terkurung, bantuan tanggap darurat hanya bisa didrop dari udara.
Sementara warga di sana dan relawan dengan susah payah, berhasil membuat jembatan dari seutas kabel waja. Menghubungkan Jamat dengan Reje Payung. Jembatan sling dijadikan penghubung dengan dunia luar. Bantuan mulai masuk, namun jembatan kabel waja ini tantanganya maut.
Butuh keberanian dan fisik untuk melaluinya di arus sungai yang deras. Kabel waja ini pernah putus dan menghanyutkan warga yang melintas. Dalam arus deras dia berjuang dengan maut, akhirnya setelah dibantu warga, dia terselematkan.
Tidak tega melihat saudaranya senantiasa berjuang dengan maut dalam membebaskan diri dari keterkurungan, hanya mengandalkan seutas tali baja, nurani warga di Kecamatan Jagong Jeget, Aceh Tengah terpanggil.
Mereka tidak membiarkan saudaranya menderita, apalagi mereka berada di tanah leluhur orang Gayo, tanah bekas kerajaan yang telah melahirkan raja terkemuka Aceh. Meurah Adi Genali, Raja Linge pertama, adalah leluhur Sultan Johansyah (Sultan Aceh pertama), yang mengawali Kesultanan Aceh pada awal abad ke-13 Masehi.
Di sana kini ada lima desa; Kampung Linge, Kute Reje, Desa Delung Sekinel, Jamat dan Desa Reje Payung. Kawasan ini porak-poranda, bahkan satu kampung pemukiman penduduk hilang dari peta, mereka harus direlokasi.
Pengabdian ke Tanah Leluhur
Untuk mencapai kumukiman Jamat, Linge, bukanlah mudah. Dalam kondisi normal saja membutuhkan waktu sekitar 3 jam, dengan jarak tempuh 70 kilometer dari ibukota Takengon. Jarak tempuh ini juga hampir sama dari Jagong ke Linge.
Ketika negeri ini dilanda musibah, Siklon Senyar 25, longsor dimana-mana, ruas jalan hancur-hancuran, untuk mencapai Linge bukanlah pekerjaan mudah. Bukan hanya waktu tempuhnya semakin lama, namun tantangan medanya sangat berat. Terselip sedikit bisa taruhanya nyawa.
Ketika musibah sudah hampir sebulan, jaringan listrik sudah mulai agak normal, dan sinyal bersahabat. Namun warga Jagong Jeget dan Atu Lintang dibalut perasaan gelisah. Mereka sudah mengetahui informasi detil tentang bencana.
Jagong Jeget dan Atu Lintang tidak masuk dalam area yang parah terkena musibah. Namun masyarakat di sana cemas. Kegelisahan itu mereka diungkapkan melalui akun medsos dan jaringan lainya, serta cerita dari mulut ke mulut.
Hati mereka tersayat, ada linangan air mata ketika mengikuti perkembangan saudara mereka yang berduka. Ada panggilan jiwa. Mereka harus berbuat, membantu saudara mereka di kawasan tenggara yang masih terisolir.
Kegelisahan dan panggilan jiwa itu akhirnya menjadi sebuah kekuatan. Mereka bangkit tanpa ada komando. Tanpa ada struktur organisasi mereka bersatu, menamakan dirinya Relawan Tanpa Batas Jagong Jeget.
Mereka menggalang dana, membuka donasi, mempersiapkan diri, fisik dan mental harus kuat. Dari penggalangan itu terkumpullah beras, minyak makan kemasan, gula, pakaian baru dan layak, sayuran, serta uang dan alquran, serta sejumlah sarana ibadah.
Kemudian relawan ini menyiapkan kenderaan roda dua yang tangguh untuk medan yang berat. Awalnya pada Sabtu, 20 Desember 2025 mereka bergerak ke Kemukiman Isaq, kampung Gelung Prajah, Singah Mata dan Wihni Dusun Jamat.
“Kami tidak ada ketua organisasi, semuanya ihklas ingin berbagi. Ini panggilan jiwa, rasa kemanusian, apalagi kawasan yang kami kunjungi adalah tanah leluhur, tanah kerajaan orang Gayo,”sebut Mahfud Fauzi salah seorang warga Jagong Jeget, menjawab Dialeksis.com, Jumat (9/1/2026) via selular.
Untuk ke Kemukiman Isaq ini ada 200 kenderaan roda dua yang meluncur ke sana. Selain membawa bantuan kemanusian, mereka menyiapkan perkakas. Mereka bahu membahu memperbaiki jalan, agar dapat dilalui kenderaan roda dua. Ruas jalan dengan medan yang berat ini mereka pasang papan, agar nyaman untuk dilintasi.
Di Jamat, masyarakat dan mereka yang ihklas membuat jembatan darurat. Walau jembatanya masih riskan, namun bisa dilalui para relawan dalam menyalurkan bantuan. Jembatan itu akhirnya memudahkan relawan Kemenag esok harinya melintas, menyalurkan bantuan.
Logistik Relawan Tanpa Batas Jagong Jeget Siap diberangkan ke Linge . foto. For Dialeksis.com.Usai melakukan kegiatan kemanusian ini, mereka kembali gelisah, ketika mendengar kabar tanah leluhur Gayo di Linge masih terisolir. Sling yang diharapkan memudahkan masyarakat untuk transportasi sangat riskan.
Warga Jagong tidak tega saudaranya yang sudah dibalut duka itu, kembali dilelahkan untuk urusan jembatan. Relawan Tanpa Batas Jagong Jeget, berinisiatif membangun jembatan apung dengan alas drum.
Rasa kebersamaan itu tidak pernah memudar, seluruhnya bergerak. Bahkan kali ini jumlah relawanya lebih banyak. Mereka harus menginap di hutan belantara ini, segela perbekalan harus disiapkan, jangan sempat saudara mereka yang sedang mengungsi disibukan dengan kehadiran relawan.
Setiap relawan yang berangkat harus mengurus makanan dan keperluan sendiri selama mereka di sana. Peralatan memasak, sampai dengan tabung gas mereka siapkan. Ada diantara mereka yang menginap satu malam, namun ada juga bahkan sampai 3 hari hingga jembatan selesai.
Menurut Herman, salah seorang relawan yang dituakan, pihaknya menyiapkan segala peralatan membuat jembatan. Mulai dari drum plastic ukuran besar, chainsaw, tali sling, ban bekas, paku, baut, serta perkakas untuk memudahkan bekerja.
Selain menyiapkan diri untuk membangun jembatan apung, Relawan Tanpa batas ini juga menyerahkan bantuan kemanusian, berupa sembako, sayur mayur, dan Al Quran, perangkat salat, pakaian, tikar, selimut dan alat ibadah lainnya.
Sehari sebelum konvoi 300 kuda besi ini meluncur ke Kala Ili, Sabtu (3/1/2026) team Relawan Tanpa Batas sudah mengirimkan beberapa utusan kesana. Mereka menyiapkan kayu untuk glogor jembatan dan papan untuk lantainya. Chainsaw dimainkan.
Keberangkatan relawan untuk kedua kalinya ke Linge, Minggu (4/1/2026), medan perjalananya masih berat, walau tidak seberat awal mula mereka menyalurkan bantuan kesana. Kini walau sudah agak lumanyan, karena alat berat sudah masuk, namun masih juga ada yang terjebak kubangan lumpur dan ada kenderaan yang harus didorong. Untuk kenderaan roda empat sudah sampai ke dekat Sungai Kala Ili.
Konvoi relawan ini dilepas dengan alunan doa dari halaman Mesjid Besar Al-Muhajjirin Jagong Jeget. Dengan Bismillah mereka berjuang, meninggalkan anak dan istri, bahkan ada yang rela meninggalkan ibunya yang sedang sakit.
Perjalanan panjang dan melelahkan mereka mulai. Raungan kuda besi itu memecah kesunyian alam yang ditumbuhi pepohonan pinus ini. Kedatangan mereka disambut dengan pelukan dan linangan air mata. Anak anak bersorak kegirangan, mereka tidak pernah melihat kawasan mereka dibanjiri sepeda motor.
Ada diantara relawan usai mengantar bantuan, keseokan harinya kembali ke kampung halaman. Namun bagi relawan yang membuat jembatan apung, mereka pantang pulang sebelum jembatan itu dilintasi sepeda motor.
Mulailah terdengar ketukan palu diantara sungai yang deras dan sunyinya alam ini. Ada keringat diantara aliran sungai berwarna pekat. Ada canda dan tawa sebagai obat pelepas lelah.
Dalam membangun jembatan apung di Kala Ili, para relawan mendapatkan “suntikan”tenaga. Pihak TNI- Polri dan masyarakat setempat, bahu membahu ikut mempercepat terselesaikan jembatan apung ini.
Sebenarnya para relawan, sampai ke Kala Ili saja mereka sudah lelah, karena medan yang mereka tempuh berat. Namun ketika melihat raut wajah saudara mereka yang tertimpa musibah, ditambah lagi ada keihklasan aparat TNI dan Polri turut membantu, rasa lelah para relawan itu hilang.
Mereka tidak merasakan pegalnya tidur beralaskan bumi, hanya dilapisi tikar diantara bebatuan dan tanah. Mereka tidak merasakan pelukan dinginnya malam diantara pepohonan pinus. Tiga hari mereka membangun jembatan apung tanpa kenal lelah.
Ketika dilangsungkan uji coba, jembatan apung ini sudah nyaman untuk dilalui kenderaan roda dua. Ketika kuda besi ini sampai ke seberang, teriakan “Allahuakbar” kembali menggema, mereka berpelukan, ada tetesan air mata yang mengalir tidak mampu dibendung.
Mulailah dilakukan penyeberangan dijembatan atas kerja keras Relawan Tanpa Batas Jagong Jeget ini. Selain dilintasi kenderaan roda dua, masyarakat sambil memanggul karung, ikut menguji ketangguhan jembatan. Seakan mengutarakan isi hatinya, mereka sudah sangat rindu dengan jembatan.
Ketika tim Relawan Tanpa Batas mohon pamit untuk kembali ke kampung halaman, teriakan Allahuakbar kembali terdengar. Mereka berpelukan, kembali ada tetesan air hangat di indra penglihatan.
“Kalian tidak sendiri saudaraku. Sama sama kita hadapi musibah ini. Kuatkan semangatmu untuk bangkit. Allah akan memudahkan jalan kita,”kalimat ini walau berbeda redaksi banyak diucapkan relawan ketika pamit untuk pulang.
Warga terisolir di kawasan Linge, melepas kepergian saudaranya kembali ke kampung halaman dengan harapan dan doa. Ada linangan air mata ketika mulut berucap terima kasih.
Mewakili masyarakat di 5 Kampung di Kemukiman Wihni Dusun Jamat, Hamdan, Reje Kampung Kute Reje, dengan suaranya yang agak serak, menahan rasa di dadanya, dia mengucapkan terima kasih sambil memeluk para relawan dari Jagong ini.
“Alhamdulillah dengan terbangunnya jembatan apung ini kami dapat beraktivitas keluar masuk dari wilayah ini dan ini suatu anugerah bagi kami. Cukup lama sudah kami menantinya semenjak bencana alam ini terjadi, berjin suderengku,” sebut Hamdan sambil menyeka kelopak matanya yang basah.
“Kami tidak bisa membalas kebaikan ini, semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala berlipat ganda,” sebut reje ini.
Raungan sepeda motor kembali memecah kesunyian alam, menggema diantara pepohonan pinus. Gemuruhnya menyampaikan salam dari Relawan Tanpa Batas untuk pamit dari tanah leluhur. Di relung hati terdalam para relawan tersemat doa.
Bumi bertuah warisan leluhur, pulihlah. Kuatkan posisimu. Ini semuanya ujian Allah. Pulihlah bumi keramat Linge, bumi yang telah melahirkan para raja. {Baga}