DIALEKSIS.COM | Jakarta - Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$ 444,4 miliar. Nilai tersebut tumbuh 2,1% secara tahunan (year on year/yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada April 2026 yang sebesar 2%.
BI menyebut kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan utang luar negeri sektor publik, yakni pemerintah dan bank sentral, di tengah kontraksi ULN swasta yang mulai mereda.
"Posisi ULN Indonesia pada Mei 2026 tetap terjaga. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah," tulis BI dalam keterangan resminya, Senin (20/7/2026).
Posisi ULN pemerintah tercatat sebesar US$ 217,3 miliar atau tumbuh 3,7% secara tahunan, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. BI menjelaskan, perkembangan tersebut terutama didorong oleh aliran masuk investor pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo.
Menurut BI, masuknya dana asing tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
"Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel," tulis BI.
Dana pinjaman luar negeri pemerintah masih difokuskan untuk mendukung sektor-sektor produktif. Porsi terbesar digunakan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22%, diikuti administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib 20,6%, pendidikan 16,2%, konstruksi 11,5%, serta transportasi dan pergudangan 8,5%.
Sementara itu, ULN Bank Indonesia meningkat seiring naiknya kepemilikan investor nonresiden pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). BI menyebut kondisi ini sejalan dengan kebijakan operasi moneter yang berorientasi pasar serta upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global.
Di sisi lain, utang luar negeri swasta masih mengalami kontraksi. Hingga Mei 2026, posisi ULN swasta tercatat sebesar US$ 195,9 miliar atau turun 0,1% secara tahunan. Meski demikian, kontraksi tersebut lebih kecil dibandingkan April 2026 yang mencapai 0,5%.
Perbaikan itu terutama ditopang oleh kelompok lembaga keuangan yang mengalami kontraksi lebih rendah, yakni 0,8% dibandingkan 5% pada bulan sebelumnya.
Empat sektor yang menjadi penyumbang terbesar ULN swasta adalah industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut mencakup sekitar 79,9% dari total ULN swasta.
BI juga menegaskan struktur utang luar negeri Indonesia masih berada pada level yang sehat. Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 29,9% pada Mei 2026, dengan dominasi utang jangka panjang yang mencapai 83,9% dari total utang luar negeri.
"Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, dengan tetap meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," tulis BI. [in]