Selasa, 21 Juli 2026
Beranda / Berita / Nasional / Kemenag Perkuat Kurikulum Berbasis Cinta, Menag: Semakin Paham Agama Semakin Toleran

Kemenag Perkuat Kurikulum Berbasis Cinta, Menag: Semakin Paham Agama Semakin Toleran

Senin, 20 Juli 2026 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, pendidikan agama harus mampu menghadirkan pemahaman yang membuat umat semakin dekat dengan ajaran agamanya. [Foto: Humas Kemenag]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) terus memperkuat pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai pendekatan baru dalam pendidikan agama. Kurikulum ini dirancang untuk menanamkan nilai kasih sayang, toleransi, dan kepedulian terhadap lingkungan, sehingga pembelajaran agama tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga membentuk karakter peserta didik.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, pendidikan agama harus mampu menghadirkan pemahaman yang membuat umat semakin dekat dengan ajaran agamanya. Menurut dia, semakin mendalam seseorang memahami agama, semakin besar pula kepeduliannya terhadap sesama dan lingkungan.

"Target jangka panjang kami adalah bagaimana semua umat beragama semakin dekat dan lengket dengan ajaran agamanya masing-masing. Semakin dalam seseorang memahami agamanya, maka ia akan semakin toleran dan penuh cinta kasih terhadap sesama," ujar Nasaruddin Umar yang dilansir pada Senin (20/7/2026).

Nasaruddin menjelaskan, Kurikulum Berbasis Cinta dikembangkan untuk menanamkan nilai cinta kepada Tuhan, sesama manusia, seluruh makhluk hidup, dan lingkungan. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya Kemenag membangun pendidikan agama yang lebih humanis, moderat, dan relevan dengan tantangan kehidupan saat ini.

Ia menilai kepedulian terhadap lingkungan juga harus menjadi bagian dari pendidikan agama sejak dini. Menurutnya, menjaga kelestarian alam merupakan tanggung jawab moral sekaligus keagamaan yang perlu ditanamkan kepada peserta didik.

"Pemanfaatan alam boleh dilakukan, tetapi tidak boleh melampaui batas kewajaran dan daya dukungnya. Eksploitasi yang merusak lingkungan harus dicegah," katanya.

Menurut Nasaruddin, setiap agama pada dasarnya mengajarkan manusia untuk mencegah kerusakan dan menghindari penggunaan sumber daya alam secara berlebihan. Karena itu, pesan-pesan tersebut perlu diperkuat dalam proses pembelajaran agar peserta didik memiliki kesadaran untuk menjaga kehidupan dan menghormati seluruh makhluk.

Kemenag juga mencatat adanya tanggapan positif terhadap penerapan Kurikulum Berbasis Cinta. Dalam pertemuan bersama para pengawas pendidikan dari berbagai daerah di Bandung, sejumlah peserta menyampaikan bahwa pendekatan tersebut mulai menciptakan suasana belajar yang lebih humanis, harmonis, dan menghargai perbedaan.

Nasaruddin menegaskan, pemahaman agama yang mendalam seharusnya memperkuat toleransi, bukan sebaliknya.

"Saya yakin, semakin kita mendalami agama masing-masing, kita akan semakin toleran satu sama lain. Semua agama mengajarkan cinta kepada manusia, makhluk hidup, dan alam," ujarnya.

Melalui penguatan Kurikulum Berbasis Cinta, Kementerian Agama berharap pendidikan agama mampu membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang baik, tetapi juga berakhlak, menghargai keberagaman, peduli terhadap sesama, serta bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI