Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Target Top 4 Dunia, Industri Keramik Nasional Terkendala Moratorium Bahan Baku

Target Top 4 Dunia, Industri Keramik Nasional Terkendala Moratorium Bahan Baku

Kamis, 05 Februari 2026 11:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Industri keramik nasional ditargetkan menembus jajaran empat besar produsen keramik dunia, seiring besarnya kapasitas produksi dan pasar domestik. [Foto: iNews Media Group]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan industri keramik nasional menembus jajaran empat besar produsen keramik dunia, seiring besarnya kapasitas produksi dan pasar domestik. Namun, di tengah ambisi tersebut, industri dihadapkan pada kendala serius berupa terhambatnya pasokan bahan baku dari Jawa Barat.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut, kapasitas terpasang industri keramik nasional saat ini mencapai 650 juta meter persegi per tahun, dengan tingkat utilisasi diperkirakan 73% pada 2025, serta menyerap sekitar 150 ribu tenaga kerja. 

“Dengan fondasi tersebut, industri keramik nasional punya peluang besar masuk empat besar produsen dunia,” ujar Agus dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).

Menurut Agus, penguatan industri keramik sejalan dengan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) yang menekankan perlindungan pasar domestik, ekspansi ekspor, investasi bernilai tambah, hingga penguasaan teknologi dan SDM. Pemerintah juga memberikan dukungan lewat Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) USD 7 per MMBTU, penerapan SNI wajib, serta instrumen pengamanan perdagangan seperti BMAD dan safeguard.

Namun demikian, Agus mengakui industri keramik saat ini menghadapi persoalan pasokan bahan baku akibat kebijakan moratorium dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Padahal, sekitar 50-60% bahan baku industri keramik nasional berasal dari wilayah tersebut. 

“Saya sudah mengarahkan Dirjen IKFT untuk segera berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Barat agar dicari solusi terbaik,” tegasnya.

Di sisi lain, pemerintah mendorong transformasi industri keramik melalui industri hijau, penerapan industri 4.0, peningkatan TKDN, modernisasi mesin, hingga inovasi desain berbasis tren global. Agus optimistis, pemanfaatan teknologi seperti digital printing yang dipadukan dengan identitas budaya Indonesia dapat menjadi keunggulan kompetitif produk nasional.

Agus juga menyoroti peluang pasar domestik yang masih terbuka lebar, mengingat konsumsi keramik per kapita Indonesia baru sekitar 2,5 meter persegi, lebih rendah dibandingkan negara ASEAN lainnya. Selain proyek perumahan dan infrastruktur, pemerintah juga menyiapkan peluang lewat program gentengisasi. 

“Ini peluang besar bagi industri keramik. Kita harus bersiap karena arah kebijakan ke depan akan semakin kuat ke sana,” pungkasnya. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI