Rabu, 20 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Rupiah Melemah, KADIN Aceh Dorong Industri Lokal Kurangi Ketergantungan Impor

Rupiah Melemah, KADIN Aceh Dorong Industri Lokal Kurangi Ketergantungan Impor

Selasa, 19 Mei 2026 22:15 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Aceh Bidang Vokasi dan Sertifikasi, Teuku Jailani Jacob. Dokumen untuk dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh -  Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang kini menembus angka Rp17.700 per dolar AS mulai memberi tekanan serius terhadap dunia usaha di Aceh, khususnya sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

Kondisi tersebut mendorong Kamar Dagang dan Industri Indonesia Aceh untuk meminta penguatan industri lokal agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat dikurangi.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Aceh Bidang Vokasi dan Sertifikasi, Teuku Jailani Jacob, mengatakan mayoritas pelaku usaha di Aceh saat ini berada dalam posisi sulit karena harus menghadapi kenaikan biaya produksi di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

“Dolar menguat, dunia usaha dan UMKM Aceh kini terhimpit di antara meningkatnya biaya produksi dan melemahnya daya beli masyarakat,” kata Teuku Jailani kepada media dialeksis.com, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, struktur usaha di Aceh masih didominasi sektor UMKM seperti kuliner, fashion, dan perdagangan retail. Namun sebagian besar bahan baku usaha masih bergantung pada pasokan dari luar daerah maupun impor.

Ia menjelaskan bahan baku seperti gula, tepung terigu, gandum, kedelai, pakan ternak, plastik kemasan hingga berbagai peralatan usaha masih banyak didatangkan dari luar. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dolar.

“Kondisi ini membuat Harga Pokok Produksi atau HPP meningkat. Sementara di sisi lain, masyarakat juga sedang mengalami penurunan kemampuan belanja. Akibatnya pelaku usaha semakin tertekan,” ujarnya.

Selain kenaikan harga bahan baku, Aceh juga masih menghadapi persoalan tingginya biaya distribusi dan logistik. Hampir seluruh bahan pendukung industri kecil harus dikirim melalui jalur transportasi dari luar daerah, sehingga ongkos angkut ikut mengalami kenaikan.

“Hampir semua sumber bahan baku dan bahan pendukung industri kecil berasal dari luar yang harus dikirim melalui jalur distribusi dan logistik. Pengiriman tersebut menambah lagi beban biaya terhadap bahan karena ongkos angkut ikut menyesuaikan harga BBM yang terdampak penguatan dolar Amerika,” jelasnya.

Teuku Jailani menilai kondisi tersebut mulai berdampak terhadap stabilitas ekonomi masyarakat. Dunia usaha yang tertekan menyebabkan lapangan kerja semakin sempit dan pendapatan masyarakat ikut menurun.

“Ketika biaya hidup meningkat sementara pendapatan tidak bertambah, masyarakat tentu akan lebih selektif dalam berbelanja. Ini yang kemudian membuat perputaran ekonomi di sektor UMKM menjadi melambat,” katanya.

Karena itu, KADIN Aceh mendorong penguatan industri lokal berbasis sektor pertanian, perkebunan, dan tanaman pangan agar Aceh mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku.

Menurutnya, kebutuhan bahan baku seperti gula, tepung hingga pakan ternak seharusnya dapat diproduksi sendiri melalui pengembangan industri pengolahan lokal. Dengan begitu, UMKM Aceh tidak terlalu terdampak oleh gejolak dolar maupun tingginya biaya logistik.

“Akan sangat menguntungkan UMKM bila barang-barang berupa bahan baku tersebut dapat disuplai sendiri di daerah sebagai hasil dari industri pengolahan sektor pertanian dan perkebunan tanaman pangan,” ujarnya.

Ia juga meminta adanya langkah konkret dari pemerintah dalam memperkuat ketahanan ekonomi daerah melalui pengembangan industri lokal dan peningkatan kapasitas produksi masyarakat.

“Kalau rupiah terus melemah sementara ketergantungan kita terhadap bahan baku luar masih tinggi, maka tekanan terhadap dunia usaha akan semakin besar. Karena itu Aceh harus mulai membangun kemandirian produksi agar ekonomi daerah lebih kuat menghadapi gejolak global,” demikian Teuku Jailani.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI