DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Nilai tukar Ringgit Malaysia terhadap Rupiah terus menanjak, namun kondisi ini tak menyurutkan minat warga Aceh untuk bepergian ke Kuala Lumpur, Malaysia.
Aktivitas penukaran uang di sejumlah money changer justru menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.
Direktur DB Money Changer, Delfia Risa, mengatakan lonjakan kurs Ringgit sudah terasa sejak akhir tahun 2025 dan kini berada di level yang cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Hari ini jual di angka Rp4.300, beli Rp4.200. Tahun kemarin masih di kisaran Rp3.400 sampai Rp3.600. Tapi awal tahun ini sudah naik terus,” ujar Delfia saat ditemui Dialeksis.com.
Berdasarkan pantauan kurs pada Rabu, 4 Februari 2026, nilai tukar Ringgit berada di kisaran Rp4.270 per 1 MYR, menandakan penguatan signifikan dibanding periode 2024-2025.
Menurut Delfia, kenaikan ini mulai terlihat jelas sejak Oktober 2025, saat Ringgit menembus angka Rp4.000 dan terus merangkak naik hingga sekarang.
“Dulu masih Rp3.800, Rp3.900. Tapi sejak Oktober sudah di atas Rp4.000 dan grafiknya naik terus,” jelasnya.
Menariknya, kenaikan kurs tidak membuat permintaan penukaran uang menurun. Delfia justru melihat peningkatan transaksi, terutama sejak November tahun lalu.
“Saya sempat pikir karena Aceh habis musibah banjir bandang bakal sepi. Ternyata nggak. Cukup ramai yang tukar Ringgit,” katanya.
Mayoritas pelanggan, kata dia, adalah warga Aceh yang membeli Ringgit untuk kebutuhan perjalanan. Sementara yang menjual Ringgit jumlahnya jauh lebih sedikit.
“Di sini kebanyakan beli Ringgit, yang jual sedikit,” ujarnya.
Delfia menilai tingginya minat penukaran Ringgit dipengaruhi oleh tren wisata masyarakat Aceh ke Malaysia, khususnya Kuala Lumpur, yang dianggap lebih terjangkau dibanding kota-kota besar di Indonesia.
“Kalau punya Rp4 juta, empat hari di Kuala Lumpur itu cukup untuk tiket, makan, hotel. Kalau ke Jakarta bisa habis Rp10 juta,” ungkapnya.
Ia juga membandingkan biaya hidup di Kuala Lumpur yang menurut pengalamannya relatif lebih murah.
“Makan di KLCC saja sekitar RM15, kira-kira Rp50-60 ribu. Hotel bisa dapat Rp400 ribu. Transportasi juga murah kalau naik bus atau Grab,” jelas Delfia.
Faktor inilah yang membuat Kuala Lumpur tetap menjadi destinasi favorit, meski nilai tukar Ringgit sedang tinggi.
Selain Ringgit, DB Money Changer juga melayani penukaran Dolar Amerika dan Riyal Arab Saudi. Namun, porsinya jauh di bawah Ringgit.
“Sekitar 70 persen transaksi di sini itu Ringgit. Dolar dan Riyal mungkin masing-masing 10 persen,” kata Delfia.
Ia menambahkan, permintaan Riyal biasanya meningkat menjelang musim umrah dan haji, sementara Dolar AS cenderung stabil.
Kenaikan mobilitas warga Aceh ke luar negeri membawa dampak positif bagi bisnis penukaran uang. Delfia mengaku tren transaksi di tempatnya meningkat signifikan sejak akhir 2025.
“Mulai November kemarin terasa naiknya. Sekarang cukup stabil dan ramai,” tutupnya. [nh]