DIALEKSIS.COM | Padang - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat upaya pemulihan ekonomi pascabencana di Sumatera Barat dengan menyalurkan bantuan sarana produksi dan pendampingan usaha bagi ribuan pelaku UMKM terdampak.
Program ini diarahkan untuk mengaktifkan kembali kegiatan usaha yang sempat terhenti akibat banjir dan longsor sejak akhir 2025.
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Siti Azizah, mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari Layanan Produksi yang difokuskan pada percepatan pemulihan aktivitas usaha masyarakat.
“Kementerian UMKM berada di garis depan untuk memastikan pengusaha UMKM terdampak bencana bisa kembali beroperasi dan menggerakkan ekonomi daerah,” ujar Azizah di Padang, Senin (9/2/2026).
Berdasarkan Sistem Informasi Data Tunggal UMKM (SIDT-UMKM), jumlah pelaku UMKM di Sumatera Barat mencapai 662.242 unit per 31 Oktober 2025. Sementara itu, data Dashboard Satu Data Kebencanaan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mencatat sedikitnya 4.876 UMKM terdampak bencana hingga 18 Januari 2026. Dampak bencana tersebut meliputi penurunan kapasitas produksi, terganggunya rantai pasok, kehilangan pasar, hingga terhentinya kegiatan usaha.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian UMKM mengoperasikan Klinik UMKM Minang Bangkit sebagai pusat pemulihan pascabencana yang berfungsi sebagai command center dan service center. Klinik ini menjalankan tiga fase pendampingan, yakni Pulih Mental, Pulih Usaha, dan Tumbuh.
Fase pertama difokuskan pada pemulihan psikologis dan penguatan motivasi pelaku usaha, sementara fase Pulih Usaha mendorong kembalinya operasional melalui akses pembiayaan, pengelolaan modal, dan manajemen risiko. Adapun fase Tumbuh diarahkan untuk meningkatkan daya saing melalui inovasi produk, pemasaran, digitalisasi, serta penguatan jejaring usaha.
Dalam pelaksanaannya, pemulihan UMKM dilakukan bersama 19 mitra dengan menyalurkan berbagai bantuan produksi ke 12 kabupaten/kota terdampak. Total bantuan yang disalurkan meliputi 1.140 kompor, 1.040 tabung gas, 415 paket bahan baku produksi, 195 peralatan masak, serta 10.000 sak semen. Penyaluran dilakukan secara bertahap sejak Januari hingga Februari 2026.
Selain bantuan sarana produksi, layanan pemulihan juga mencakup konseling psikologis atau trauma healing bersama Himpunan Psikologi Indonesia dan Universitas Andalas, dukungan spiritual melalui tokoh agama, serta pendampingan pembiayaan dan pemulihan bisnis.
“Kami berharap UMKM Sumatera Barat tidak hanya pulih, tetapi mampu tumbuh lebih kuat dan berdaya saing,” kata Azizah. [in]