DIALEKSIS.COM | Jakarta - Bank Indonesia (BI) melaporkan perkembangan terbaru indikator keuangan domestik di tengah dinamika perekonomian global. Nilai tukar rupiah dan yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada akhir pekan ini.
Pada penutupan perdagangan Kamis (5/2/2026), rupiah ditutup melemah di level Rp16.825 per dolar AS. Pada saat yang sama, yield SBN tenor 10 tahun turun ke level 6,30%.
Dari sisi global, Indeks Dolar AS (DXY) tercatat menguat ke level 97,82, sementara yield US Treasury (UST) Note 10 tahun mengalami penurunan ke 4,180%.
Memasuki perdagangan Jumat pagi (6/2/2026), tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Mata uang Garuda dibuka melemah di level Rp16.850 per dolar AS, seiring dengan kenaikan yield SBN 10 tahun ke level 6,37%.
Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas eksternal di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Sabtu (7/2/2026).
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi dan reliabilitas data, BI menyampaikan bahwa perkembangan aliran modal asing pada pasar saham dan SBN dapat diakses melalui website Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan. [ra]