DIALEKSIS.COM | Jakarta - Jumlah investor pasar modal Indonesia terus mencetak rekor baru. Hingga akhir Januari 2026, total investor pasar modal telah mencapai 21,03 juta Single Investor Identification (SID), mencerminkan partisipasi masyarakat yang kian luas di tengah dinamika pasar saham yang berfluktuasi.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, jumlah tersebut bertambah 673.218 SID dibandingkan posisi akhir 2025. Sepanjang tahun lalu, pertumbuhan investor pasar modal bahkan mencapai 5,49 juta SID, menandai tren inklusi keuangan yang masih berlanjut.
Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Kautsar Primadi Nurahmad, mengatakan pertumbuhan investor menunjukkan fondasi pasar modal domestik yang semakin kuat.
“Pertumbuhan jumlah investor mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia serta efektivitas upaya literasi dan inklusi keuangan yang terus kami dorong,” ujar Kautsar dalam keterangan resminya, Selasa (3/2/2026).
Dari sisi investor saham, jumlahnya kini hampir menyentuh 9 juta SID, yakni 8,98 juta SID. Angka tersebut meningkat hampir 368 ribu SID dibandingkan akhir 2025, setelah sepanjang tahun lalu bertambah lebih dari 2,23 juta SID.
Seiring bertambahnya basis investor, aktivitas perdagangan saham di BEI pada periode 23“30 Januari 2026 menunjukkan pergerakan yang beragam. Rata-rata nilai transaksi harian melonjak 29,28% menjadi Rp43,76 triliun, sementara frekuensi transaksi harian naik 1,59% menjadi 3,82 juta kali transaksi.
Namun demikian, tekanan masih terlihat pada pergerakan indeks. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 6,94% dan ditutup di level 8.329,606, diikuti penurunan kapitalisasi pasar sebesar 7,37% menjadi Rp15.046 triliun.
Menurut Kautsar, dominasi investor domestik menjadi faktor penopang di tengah aksi jual investor asing.
“Partisipasi investor domestik yang terus meningkat berperan penting dalam menjaga likuiditas dan stabilitas perdagangan, meskipun pasar tengah dipengaruhi sentimen global,” jelasnya.
Pada perdagangan terakhir, investor asing tercatat membukukan jual bersih Rp1,53 triliun. Secara kumulatif sepanjang 2026, nilai jual bersih asing telah mencapai Rp9,88 triliun.
BEI menilai, bertambahnya jumlah investor ritel domestik diharapkan dapat menjadi penyeimbang volatilitas pasar sekaligus memperkuat struktur pasar modal Indonesia ke depan. [red]