Senin, 28 September 2026
Beranda / Ekonomi / Ketua Rumoh Pangan Aceh Ajak Pemimpin Muda Asia Perkuat Ketahanan Pangan

Ketua Rumoh Pangan Aceh Ajak Pemimpin Muda Asia Perkuat Ketahanan Pangan

Senin, 28 September 2026 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ketua Rumoh Pangan Aceh (RPA), Rivan Rinaldi saat Opening Ceremony IATSS Forum ke-70 yang berlangsung di Suzuka, Prefektur Mie, Jepang, Minggu (27/9/2026). [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketua Rumoh Pangan Aceh (RPA), Rivan Rinaldi, S.Pd., M.Sc., mengajak pemimpin muda dari berbagai negara Asia memperkuat kolaborasi dalam menghadapi tantangan pangan dan pertanian berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Rivan kepada Dialeksis.com saat dikonfirmasi di Banda Aceh, Senin (28/9/2026), terkait keikutsertaannya dalam Opening Ceremony IATSS Forum ke-70 yang berlangsung di Suzuka, Prefektur Mie, Jepang, Minggu (27/9/2026).

Rivan mengatakan persoalan pangan saat ini tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut perubahan iklim, degradasi lingkungan, regenerasi petani, ketergantungan pangan impor, teknologi hingga akses pasar.

“Persoalan pangan bukan hanya tentang bagaimana kita menghasilkan makanan sebanyak-banyaknya. Ada perubahan iklim, degradasi lingkungan, ketergantungan terhadap impor, regenerasi petani, perubahan pola konsumsi, teknologi, sampai persoalan rantai pasok dan akses pasar,” kata Rivan.

Menurutnya, berbagai persoalan tersebut membutuhkan peran generasi muda untuk membangun kerja sama lintas negara.

“Ketahanan pangan bukan persoalan satu negara. Kita memiliki tantangan yang berbeda, tetapi banyak persoalan kita saling berkaitan,” ujarnya.

Ia berharap pertemuan para pemimpin muda Asia dapat menjadi ruang untuk saling bertukar pengalaman dan membangun kolaborasi nyata.

“Kita membutuhkan kolaborasi dan kepemimpinan yang mampu melihat Asia sebagai kawasan yang saling terhubung,” kata Rivan.

Rivan juga menekankan bahwa kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memimpin, tetapi juga kemampuan mendengar dan belajar dari orang lain.

“Leadership bukan hanya tentang bagaimana kita memimpin orang lain, tetapi juga bagaimana kita bisa belajar dari orang lain,” ujarnya.

Ia menilai keberagaman peserta IATSS Forum menjadi modal penting untuk membangun gagasan bersama.

“Kita datang dari negara, budaya, profesi, dan pengalaman yang berbeda. Justru perbedaan itu bisa menjadi modal untuk belajar satu sama lain,” katanya.

Sebagai Ketua RPA, Rivan turut membawa pengalaman Aceh dalam penguatan sistem pangan dan posisi petani lokal.

“Ketahanan pangan harus dimulai dari petani. Ketika petani memiliki akses terhadap teknologi, pasar, pengetahuan dan jaringan yang baik, kita tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga membangun sistem pangan yang lebih kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Rivan mengatakan kolaborasi dapat dikembangkan dalam berbagai bidang, mulai dari pertanian regeneratif, komoditas pangan lokal, pengurangan food loss and waste, teknologi pertanian, pengolahan pangan hingga penguatan rantai nilai.

“Setiap negara memiliki pengalaman dan keunggulan masing-masing. Kita tidak harus memulai semuanya dari nol karena ada banyak pengalaman yang bisa dipelajari dari negara lain,” katanya.

Ia berharap hubungan yang terbangun dalam IATSS Forum tidak berhenti setelah kegiatan selesai. “Jangan sampai setelah kembali ke negara masing-masing, hubungan ini berhenti sebagai kenangan pernah bertemu di Jepang. Kita bisa mulai dari kolaborasi kecil, kemudian mengembangkannya menjadi kerja sama yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” lanjutnya.

Menurut Rivan, forum tersebut juga menjadi kesempatan untuk membawa perspektif Aceh ke ruang diskusi regional Asia.

“Kita ingin membawa pengalaman Aceh, sekaligus belajar dari pengalaman negara-negara lain. Aceh memiliki potensi pangan dan sumber daya yang besar, tetapi tentu masih banyak hal yang bisa kita pelajari,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI