DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, pasokan dan harga pangan sempat mengalami gejolak.
Kondisi ini, menurut Direktur Rumoh Pangan Aceh, Rivan Rinaldi, tidak lepas dari tingginya ketergantungan Aceh terhadap pasokan dari provinsi tetangga serta masih lemahnya pemasaran produk petani lokal.
Rivan menyebut, pascabanjir memang terjadi kekurangan pasokan pada beberapa komoditas. Namun, ia menegaskan persoalan tersebut bukan semata karena produksi yang terbatas.
"Bukan keterbatasan, tapi kurang. Itu yang bikin kemarin harga beberapa komoditas sempat naik, sementara di daerah lain justru rendah,” ujarnya kepada media dialeksis.com, Minggu (18/1/2026).
Ia mencontohkan kondisi di Takengon, Aceh Tengah. Saat distribusi terganggu dan pengangkutan tidak stabil, harga di pasar ikut terdampak. “Waktu pengangkutan nggak stabil, harga di pasar jadi nggak jelas arahnya, akhirnya jatuh,” kata Rivan.
Menurutnya, secara umum Aceh masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah. Selain produksi lokal yang belum maksimal, pasar di Aceh juga masih didominasi produk dari provinsi tetangga. Situasi ini membuat petani lokal kerap berada di posisi yang kurang menguntungkan.
“Kalau produksi kita banyak tapi pembeli lebih memilih produk luar, otomatis harga jatuh. Kalau harga jatuh, petani pasti kurang semangat. Bukannya untung, malah rugi,” jelasnya.
Untuk itu, Rumoh Pangan Aceh berupaya mengambil peran dengan membantu pemasaran langsung hasil pertanian. Tujuannya agar petani memiliki pasar yang jelas dengan harga yang lebih adil.
“Ini produk langsung dari petani. Kita bantu pasarnya supaya petani nggak dirugikan,” ujar Rivan.
Ia menambahkan, upaya yang dilakukan saat ini masih bersifat jangka pendek. Ke depan, Rumoh Pangan Aceh menargetkan sistem pemasaran jangka panjang, mulai dari layanan antar langsung ke konsumen hingga kerja sama dengan distributor melalui skema business to business (B2B).
“Harapannya nanti ada distributor yang bisa menerima langsung produk petani, jadi penjualannya lebih berkelanjutan,” katanya.
Rivan juga menilai peran pemerintah sangat penting dalam memperkuat sistem pangan daerah. Dukungan itu bisa berupa bantuan biaya distribusi, perbaikan infrastruktur, hingga penguatan pemasaran.
"Minimal bisa bantu biaya pengiriman. Kalau jangka panjang, infrastruktur juga perlu dibenahi supaya barang dari kebun petani lebih lancar keluar,” ujarnya.
Menurut Rivan, persoalan utama saat ini sebenarnya bukan lagi di hulu. “Kalau pasarnya ada, petani pasti ikut. Jadi yang penting itu pasar dan promosinya,” ucapnya.
Soal kualitas, Rivan menegaskan pangan lokal Aceh tidak kalah bersaing dengan produk luar daerah. Ia menyebut, tantangannya kini ada pada cara pandang masyarakat.
"Kalau bersaing, kualitas pangan kita sangat bersaing. Tinggal perspektif masyarakat saja,” katanya.
Ia pun mengingatkan bahwa ketergantungan pada daerah lain justru melemahkan ketahanan pangan Aceh. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk benar-benar berpihak pada produk lokal.
“Kita harus dukung petani kita. Caranya satu, beli apa yang petani kita tanam, karena mencintai saja nggak cukup kalau nggak membeli,” pungkasnya. [nh]