DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menyatakan dampak bencana yang melanda Aceh masih akan terasa pada semester pertama tahun ini. Kondisi tersebut disebabkan aktivitas masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
“Di semester pertama, dampak bencana masih terbawa karena masyarakat belum bisa bekerja secara normal. Namun, kami berharap pada semester kedua masyarakat sudah bisa kembali beraktivitas,” kata Agus dalam konferensi pers terkait dengan perkembangan ekonomi Aceh di Banda Aceh, Rabu, 21 Januari 2026.
Ia menjelaskan, proses pemulihan yang cepat serta berbagai bantuan pemerintah kepada masyarakat terdampak diyakini dapat mendorong kembali pertumbuhan ekonomi Aceh.
“Upaya recovery dan bantuan pemerintah akan menggantikan efek bencana dan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Sebelum bencana, BI Aceh memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun 2025 berada di kisaran 4,6 persen. Namun akibat bencana, proyeksi tersebut berpotensi turun menjadi sekitar 4,3 persen, meski diharapkan tetap berada di atas 4 persen.
Sementara untuk tahun 2026, BI Aceh optimistis pertumbuhan ekonomi akan kembali membaik di kisaran 4,4 hingga 4,5 persen.
“Kami berharap 2026 bisa mendekati kembali angka sebelum bencana. Perlu optimisme dari masyarakat karena ekonomi Aceh tidak berada pada kondisi terburuk dan masih bisa cepat pulih,” kata Agus.
Selain itu, BI Aceh juga mencatat adanya usulan dari perbankan agar dana dapat ditempatkan di daerah untuk mempercepat perputaran pembiayaan dan mendorong ekonomi lokal. Usulan tersebut akan disampaikan ke pemerintah dan kantor pusat untuk dikaji lebih lanjut.
Namun, Agus menegaskan bahwa dinamika ekonomi global tetap menjadi faktor eksternal yang berada di luar kendali daerah.
“Masalah global itu terjadi di tingkat internasional dan tidak bisa kita kendalikan secara langsung,” pungkasnya.