Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Hilirisasi Baja Dorong Industri Perkakas Tangan Dalam Negeri

Hilirisasi Baja Dorong Industri Perkakas Tangan Dalam Negeri

Senin, 27 April 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menyebutkan, saat ini terdapat lebih dari 100 unit usaha IKM perkakas tangan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Sulawesi. [Foto: dok. Kemenperin]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Industri perkakas tangan dalam negeri menunjukkan geliat positif di tengah dorongan pemerintah memperkuat hilirisasi baja nasional. Sektor ini dinilai semakin mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, khususnya untuk sektor pertanian dan perkebunan yang masih bergantung pada alat sederhana.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, industri ini memiliki basis kuat karena didukung keterampilan tenaga kerja yang berkembang secara turun-temurun di berbagai sentra produksi. Selain itu, permintaan pasar dinilai masih terbuka lebar.

“Industri ini didukung dengan banyaknya tenaga kerja di sentra produksi yang sudah menguasai keterampilan secara turun-temurun. Pasarnya juga besar karena Indonesia negara agraris,” kata Agus, Senin (27/4/2026).

Ia menjelaskan, kebutuhan terhadap perkakas tangan masih tinggi, baik dari pelaku industri kecil dan menengah (IKM) maupun perusahaan besar di sektor kehutanan dan perkebunan. Produk seperti alat panen menjadi salah satu yang paling banyak digunakan dalam aktivitas produksi di lapangan.

Pemerintah pun mendorong peningkatan penggunaan produk dalam negeri melalui program P3DN. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan penyerapan produk IKM sekaligus memperkuat kepercayaan industri terhadap produk lokal yang telah memiliki sertifikasi standar nasional.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menyebutkan, saat ini terdapat lebih dari 100 unit usaha IKM perkakas tangan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Sulawesi. Sentra produksi terbesar berada di Sumatera Utara.

Meski demikian, Reni mengakui industri ini masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan bahan baku baja dengan spesifikasi tertentu hingga tekanan dari produk impor. Selain itu, kebutuhan investasi teknologi juga menjadi tantangan bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi.

Sebagai upaya penguatan, Kemenperin terus mendorong kemitraan antara IKM dan industri besar, termasuk melalui platform digital. Salah satu contoh adalah perusahaan di Medan yang mampu menembus pasar ekspor dengan produk alat panen. Dukungan bahan baku dari industri baja nasional juga dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing ke depan. [red]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI