DIALEKSIS.COM | Bogor - Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mempercepat pengembangan hilirisasi komoditas singkong di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebagai bagian dari strategi penguatan ketahanan pangan nasional.
Intervensi dilakukan dengan menyalurkan bantuan peralatan pengolahan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) guna meningkatkan kapasitas produksi dan mutu hasil olahan.
Langkah tersebut mulai terlihat di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, yang kini berkembang sebagai sentra pengolahan singkong berbasis teknologi. UMKM setempat bertransformasi dari metode produksi tradisional menuju sistem semi modern, dengan dukungan mesin pencuci, pemarut, pengering, hingga sistem penirisan yang lebih terintegrasi.
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, menegaskan bahwa penguatan sektor pengolahan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pangan yang terintegrasi.
“Dengan dukungan teknologi, proses produksi menjadi lebih efisien dan terkontrol, tidak lagi bergantung pada cara konvensional seperti penjemuran,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima pada Sabtu (25/4/2026).
Ia menyebutkan, penggunaan mesin pengering mampu meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan, bahkan mencapai sekitar satu ton per jam. Selain meningkatkan volume, penggunaan teknologi juga dinilai mampu menjaga konsistensi kualitas produk tepung tapioka yang dihasilkan.
Bapanas juga mendorong penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir. Hasil panen singkong dari petani diserap oleh UMKM untuk diolah, kemudian dilanjutkan ke koperasi untuk proses standardisasi, pengemasan, hingga distribusi ke pasar.
“Pola ini penting untuk menjaga kesinambungan produksi sekaligus memperluas akses pasar,” kata Andriko.
Di tingkat pelaku usaha, perubahan tersebut mulai dirasakan. Salah satu pengusaha pengolahan singkong, Andi, menyatakan bahwa bantuan peralatan dari pemerintah telah meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi.
“Permintaan tepung tapioka cukup tinggi, dan dengan pengolahan yang lebih baik, kami optimistis bisa memenuhi kebutuhan pasar dengan kualitas yang lebih terjamin,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, pelaku UMKM lainnya, Khoirudin, mengaku sistem produksi kini jauh lebih praktis setelah beralih dari mesin manual berbasis diesel ke mesin listrik otomatis.
Ia menyebutkan kapasitas produksi meningkat dari sebelumnya sekitar satu hingga dua ton per hari menjadi hingga lima ton per hari.
Pemerintah berharap penguatan hilirisasi ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas singkong, tetapi juga memperkuat diversifikasi pangan nasional serta mengurangi ketergantungan pada bahan pangan impor. [in]