DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat kinerja positif sektor perikanan sepanjang 2025. Nilai ekspor produk perikanan Indonesia pada periode Januari-Desember 2025 mencapai USD 6,27 miliar atau tumbuh 5,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pelaksana Tugas Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Machmud, mengatakan Amerika Serikat masih menjadi pasar utama dengan kontribusi 31,8 persen atau senilai USD 1,99 miliar.
“Nilai ekspor ke Amerika Serikat meningkat 4,7 persen dibanding tahun sebelumnya, begitu juga ke ASEAN (16,7 persen), Jepang (2,5 persen) dan Uni Eropa (9 persen),” ujar Machmud dalam keterangan tertulis yang diterima pada Kamis (19/2/2026).
Selain Amerika Serikat, pasar besar lainnya adalah Tiongkok sebesar USD 1,22 miliar (19,5 persen), ASEAN USD 1,00 miliar (16,0 persen), Jepang USD 613,65 juta (9,8 persen), dan Uni Eropa USD 451,72 juta (7,2 persen). Dari sisi komoditas, udang menjadi penyumbang terbesar dengan nilai USD 1,87 miliar atau 29,8 persen dari total ekspor, diikuti tuna-cakalang sebesar USD 1,04 miliar dan cumi-sotong-gurita USD 889,73 juta.
“Ini merupakan pertanda bahwa komoditas Indonesia begitu bernilai di pasar global,” kata Machmud.
Tak hanya ekspor yang tumbuh, KKP juga mencatat surplus neraca perdagangan produk perikanan sebesar USD 5,60 miliar pada 2025, naik 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya berdasarkan data Badan Pusat Statistik.
“Kami berkomitmen menjaga Indonesia untuk tetap dan selalu menjadi negara nett exporter produk perikanan.” tegasnya.
Untuk 2026, Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP Erwin Dwiyana memastikan KKP akan memperkuat akses pasar melalui fasilitasi regulasi ekspor, negosiasi tarif, serta pemanfaatan skema perjanjian dagang seperti Indonesia Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA) dengan tarif preferensi 0 persen untuk produk olahan tuna dan cakalang.
KKP juga mendorong pelaku usaha menjaga mutu dan keberlanjutan guna mempertahankan daya saing di pasar global. [in]