Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Dampak Konflik Iran-Israel-AS, Guru Besar USK Sarankan Pemerintah Perkuat Ketahanan Ekonomi

Dampak Konflik Iran-Israel-AS, Guru Besar USK Sarankan Pemerintah Perkuat Ketahanan Ekonomi

Jum`at, 06 Maret 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Guru Besar Makroekonomi Internasional Universitas Syiah Kuala, Prof Dr. Rustam Effendi, SE., M. Econ. Foto: dok pribadi 


DIALEKSIS.COM | Aceh - Guru Besar Makroekonomi Internasional Universitas Syiah Kuala, Prof Dr. Rustam Effendi, SE., M. Econ, menilai eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat berpotensi menimbulkan tekanan baru terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. 

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dinilai dapat memicu gejolak harga energi, gangguan rantai pasok, serta tekanan inflasi di berbagai negara.

Menurut Rustam, konflik berskala internasional apalagi melibatkan negara-negara produsen energi seperti minyak bumi jelas akan membawa konsekuensi ekonomi yang tidak kecil. Terganggunya proses produksi dan adanya hambatan jalur distribusi jelas menaikkan harga minyak dunia dan biaya logistik global. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi stabilitas harga barang, biaya produksi, serta daya beli masyarakat.

“Setiap konflik di kawasan strategis seperti Timur Tengah hampir pasti berdampak pada pasar energi dunia. Ketika harga minyak naik dan jalur distribusi (perdagangan) terganggu, negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia akan menghadapi tekanan inflasi dan kenaikan biaya logistik,” kata Rustam dalam keterangannya kepada Dialeksis, Jumat (6/3/2026).

Ia menjelaskan, dampak tersebut biasanya muncul melalui beberapa jalur utama. Pertama, lonjakan harga energi akan memicu kenaikan biaya transportasi dan produksi. Kedua, meningkatnya ketidakpastian pasar global juga dapat memengaruhi arus investasi dan perdagangan internasional. Ketiga, gangguan distribusi komoditas strategis berpotensi memicu kenaikan harga pangan.

Dalam situasi seperti ini, Rustam menilai pemerintah perlu merespons secara cepat dan terukur agar dampak eksternal tidak berkembang lebih luas dan menekan ekonomi domestik.

Menurut dia, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memperkuat stabilitas pasokan energi nasional. Pemerintah, kata Rustam, dapat memanfaatkan cadangan energi strategis sekaligus mengatur pasokannya dengan cermat agar gejolak harga global tidak langsung membebani masyarakat.

Selain itu, koordinasi bauran kebijakan fiskal dan moneter dinilai juga penting untuk menjaga stabilitas ekonomi. Ia menilai pemerintah bersama otoritas moneter perlu memastikan inflasi nasional tetap terkendali tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi.

“Stabilitas ekonomi sangat bergantung pada efektivitas koordinasi bauran kebijakan fiskal dan moneter. Pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi dan perlindungan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Ini tentu tidak mudah,” ujarnya.

Rustam juga menekankan pentingnya perlindungan bagi kelompok rentan apabila terjadi kenaikan harga energi atau bahan pokok. Program bantuan sosial dan subsidi yang tepat sasaran dinilai dapat membantu menjaga daya beli masyarakat.

Di sisi lain, ia mendorong pemerintah mempercepat diversifikasi sumber energi dan memperkuat produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Langkah tersebut, menurutnya, merupakan strategi jangka menengah yang penting agar ketahanan ekonomi nasional tetap kuat dalam merespon setiap gejolak yang terjadi di tingkat global.

“Pelajaran dari setiap krisis global adalah pentingnya ketahanan ekonomi domestik. Negara yang memiliki cadangan energi kuat, produksi pangan yang stabil, dan kebijakan fiskal yang disiplin akan lebih mampu bertahan menghadapi guncangan eksternal,” kata Rustam.

Ia menambahkan, selain kebijakan ekonomi, diplomasi internasional juga berperan penting dalam menjaga kestabilan kawasan dan kelancaran perdagangan global. 

Menurut Rustam, upaya diplomasi yang mendorong deeskalasi perlu diteruskan. Hal ini akan dapat membantu meredakan ketegangan dan menurunkan ketidakpastian ekonomi dunia.

“Meski demikian, dalam situasi geopolitik yang tegang seperti sekarang ini, stabilitas ekonomi nasional sangat ditentukan oleh kesiapan kebijakan pemerintah dan peran positif dari seluruh elemen bangsa. Respons yang cepat, terukur, dan terkoordinasi, termasuk dalam meramu bauran kebijakan menjadi kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI