Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Trump Serang Iran, Analis Sebut Misinya Sulit Terwujud

Trump Serang Iran, Analis Sebut Misinya Sulit Terwujud

Jum`at, 06 Maret 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Presiden Donald Trump. Foto: Reuters/Marco Bello Purchase Licensing Rights


DIALEKSIS.COM | Internasional – Beberapa jam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan kampanye pengeboman terhadap Iran pada Sabtu, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa tujuan dari operasi militer tersebut adalah memberikan “kebebasan bagi rakyat Iran”.

Namun sejumlah analis menilai pernyataan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan tujuan strategis Washington. Mereka melihat bahwa langkah militer itu berpotensi mengarah pada upaya mengguncang sistem pemerintahan di Teheran, meski tanpa komitmen jelas untuk melakukan invasi darat.

Sejumlah pengamat kebijakan luar negeri menilai ada beberapa faktor yang membuat tujuan akhir pemerintahan Trump di Iran sulit tercapai tanpa keterlibatan pasukan di lapangan.

Peneliti senior di lembaga pemikir Stimson Center, Kelly Grieco, menilai perubahan politik besar seperti pergantian rezim hampir mustahil terjadi hanya melalui serangan udara.

Ia menyebut Washington tampaknya tidak bersedia menanggung biaya besar dari operasi militer berskala penuh, termasuk risiko mengerahkan pasukan darat.

“Sepertinya mereka tidak ingin membayar biaya untuk perubahan rezim. Karena itu muncul serangkaian tujuan sekunder yang mungkin dianggap cukup jika tujuan utama tidak tercapai,” ujar Grieco kepada Al Jazeera.

Senada dengan itu, Wakil Presiden Eksekutif di Center for International Policy, Matthew Duss, menegaskan bahwa sejarah menunjukkan kekuatan udara saja tidak pernah secara langsung menggulingkan pemerintahan sebuah negara.

Menurutnya, bahkan dalam kasus Libya pada 2011, kampanye udara NATO baru berhasil menjatuhkan Muammar Gaddafi setelah pasukan pemberontak melakukan serangan darat.

Faktor lain yang menjadi kendala adalah rendahnya dukungan publik Amerika terhadap konflik tersebut. Survei yang dilakukan Reuters menunjukkan hanya sekitar seperempat warga Amerika yang mendukung perang dengan Iran.

Duss membandingkannya dengan invasi Irak tahun 2003 yang saat itu didukung lebih dari separuh publik Amerika. Ia memperkirakan dukungan publik akan semakin menurun jika Washington benar-benar mengerahkan pasukan darat.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Senator Demokrat Richard Blumenthal setelah mengikuti pengarahan tertutup dengan pejabat pemerintah. Ia menyatakan khawatir konflik tersebut bisa berkembang menjadi operasi militer darat yang lebih luas.

Dalam beberapa hari terakhir, pejabat tinggi pemerintahan Trump menyampaikan tujuan yang lebih terbatas dibandingkan pergantian rezim. Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth menekankan bahwa operasi militer difokuskan pada penghancuran program nuklir, drone, dan kekuatan angkatan laut Iran.

Hegseth bahkan menegaskan bahwa kampanye pengeboman tersebut tidak dimaksudkan untuk berubah menjadi “perang tanpa akhir”.

Meski demikian, para analis menilai pesan yang disampaikan pemerintah AS masih belum konsisten. Grieco menyebut pemerintah belum menjelaskan secara jelas apa tujuan strategis yang ingin dicapai dari operasi militer tersebut.

Kritik juga datang dari kalangan politik dalam negeri. Senator Demokrat Elizabeth Warren menilai pemerintahan Trump tidak memiliki rencana yang jelas terkait konflik dengan Iran.

Menurutnya, perang tersebut diluncurkan tanpa alasan yang transparan kepada publik Amerika dan tanpa strategi yang jelas untuk mengakhirinya.

Kampanye pengeboman yang dimulai Sabtu pagi dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, serta ratusan warga sipil.

Konflik kemudian meluas ke kawasan Timur Tengah. Iran dilaporkan membalas dengan serangan drone dan rudal terhadap aset Amerika serta target energi di negara-negara Teluk, sekaligus meluncurkan serangan ke Israel.

Kelompok sekutu Iran di Irak turut mengklaim melakukan serangan terhadap target yang berafiliasi dengan AS, sementara kelompok Hezbollah di Lebanon juga dilaporkan ikut terlibat di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih luas di Timur Tengah.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI