DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Nasri Djalal, mengungkapkan bahwa Blok Lhokseumawe saat ini berstatus open area setelah kontrak kerja sama dengan perusahaan sebelumnya, Zaratex NV, resmi dihentikan.
Status tersebut membuka peluang bagi investor baru untuk melanjutkan pengembangan wilayah kerja migas yang dinilai memiliki potensi produksi menjanjikan.
Nasri menjelaskan, terminasi kontrak dengan Zaratex membuat wilayah kerja tersebut tidak lagi terikat dengan kontraktor mana pun.
“Open area itu artinya wilayah kerja tersebut tidak lagi memiliki keterikatan kontrak dengan perusahaan tertentu. Jadi sekarang kita membuka peluang untuk mencari investor baru yang berminat mengelola blok tersebut,” kata Nasri kepada wartawan dialeksis.com, Sabtu (14/3/2026).
Menurutnya, status tersebut bukan berarti BPMA akan mengelola langsung blok migas tersebut. Sebaliknya, lembaga tersebut kini tengah mencari investor baru yang bersedia melanjutkan pengembangan lapangan.
“Bukan kita yang mengelola sendiri. Open area itu berarti kita membuka peluang seluas-luasnya untuk mencari investor baru sampai ditemukan kontraktor yang siap mengembangkan wilayah kerja tersebut,” ujarnya.
Nasri menilai Blok Lhokseumawe memiliki prospek yang cukup baik bagi investor. Hal ini karena sebelum kontraknya dihentikan, Zaratex NV telah membawa proyek tersebut hingga tahap Plan of Development (POD) atau rencana pengembangan lapangan.
Tahapan tersebut menandakan bahwa blok migas itu telah melewati proses eksplorasi awal dan sudah memiliki gambaran yang jelas terkait potensi cadangan serta rencana produksi.
“Pada saat terminasi kontrak, Zaratex sudah sampai ke tahap POD atau pengembangan lapangan. Artinya blok ini sudah melewati fase eksplorasi,” jelasnya.
Ia menerangkan, dalam industri migas terdapat dua tahapan utama sebelum suatu wilayah kerja memasuki fase produksi, yakni tahap eksplorasi untuk mencari potensi cadangan dan tahap eksplorasi pengeboran untuk memastikan keberadaan sumber daya migas.
Karena tahapan tersebut telah dilalui, investor yang nantinya masuk ke Blok Lhokseumawe dinilai tidak perlu memulai dari tahap awal.
“Jadi sebenarnya siapa pun investor yang masuk nanti tinggal melanjutkan menuju tahap produksi, karena sebagian besar proses penting sudah dilakukan oleh Zaratex” jelas Nasri.
Diketahui, Blok Lhokseumawe merupakan pengembangan lapangan migas Aceh pertama setelah terbentuknya BPMA. Lapangan gas ini berada di 7 kilometer lepas Pantai Lhokseumawe. [nh]