DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat kinerja ekspor produk perikanan masih cukup kuat di awal tahun. Hingga pertengahan Maret 2026 atau menjelang Lebaran, nilai ekspor tercatat mencapai USD 983,1 juta atau setara Rp16,7 triliun.
Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP), Ishartini, mengungkapkan total volume ekspor mencapai 197.718,8 ton. Angka ini dihimpun dari penerbitan Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SMKHP) yang menjadi syarat masuk ke negara tujuan.
“Data kami menunjukkan ekspor ikan ke berbagai negara tetap berjalan, dengan nilai mencapai Rp16,7 triliun,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Ia menjelaskan, produk perikanan Indonesia saat ini telah menembus 140 negara tujuan. Sejumlah pasar utama di antaranya Amerika Serikat, China, Jepang, Vietnam, hingga negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah.
Dari sisi produk, komoditas yang diekspor juga semakin beragam. Tercatat ada ratusan jenis produk dengan komoditas unggulan seperti udang vaname, tuna, cumi-cumi, rajungan, hingga rumput laut.
Meski dari sisi nilai masih tinggi, KKP mengakui ada tekanan pada volume ekspor. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terjadi penurunan volume hingga 41,35% yang turut menyeret nilai ekspor turun 21,71%.
Menurut Ishartini, kondisi ini tak lepas dari dampak situasi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah. Gangguan rantai pasok membuat distribusi produk perikanan menjadi lebih menantang.
“Permintaan sebenarnya masih stabil. Namun, distribusi terganggu karena perubahan rute pengiriman, keterbatasan kontainer, hingga kenaikan biaya logistik,” jelasnya.
KKP pun terus berkoordinasi dengan mitra dagang dan pelaku usaha di dalam negeri untuk menjaga stabilitas ekspor, sekaligus mendorong penyerapan produk perikanan di pasar domestik. [in]