DIALEKSIS.COM | Abuja - Wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo (Kongo) telah mencapai 10.060 kasus terkonfirmasi, menurut data Kementerian Kesehatan setempat, Selasa (27/10/2026).
Dari jumlah tersebut, hampir separuh pasien meninggal dunia. Kondisi ini menjadikan wabah yang dinyatakan pada Mei tersebut sebagai salah satu wabah Ebola yang berkembang paling cepat sekaligus paling mematikan dalam sejarah Kongo.
Wabah disebabkan virus Ebola jenis Bundibugyo, varian langka yang belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui. Upaya penanganan menghadapi berbagai hambatan, mulai dari konflik bersenjata, buruknya infrastruktur jalan, hingga kekerasan terhadap petugas kesehatan.
Ketidakpercayaan masyarakat dan penyebaran informasi yang keliru juga membuat upaya pelacakan kasus menjadi lebih sulit. Sebagian warga enggan melaporkan gejala atau membawa anggota keluarga yang sakit ke pusat perawatan.
Dibandingkan wabah Ebola di Afrika Barat pada 2014-2016 yang mencatat lebih dari 28.000 kasus dan lebih dari 11.000 kematian, wabah di Kongo berkembang jauh lebih cepat sejak dinyatakan.
Penyebarannya juga telah meluas ke sejumlah negara Afrika. Kasus tercatat di Kenya dan Nigeria, sementara Uganda dan Prancis sebelumnya juga melaporkan kasus terkait wabah tersebut, meski kini tidak memiliki kasus aktif.
Kepala CDC Afrika Jean Kaseya mengatakan negara-negara Afrika perlu memperkuat koordinasi untuk menghentikan penyebaran Ebola lintas batas.
“Ebola melintasi perbatasan. Respons kita harus bergerak lebih cepat,” kata Kaseya.
Para menteri kesehatan Afrika dijadwalkan menggelar pertemuan virtual untuk memperkuat respons bersama terhadap wabah tersebut.
Di Kongo, Ebola kini telah menyebar ke 66 zona kesehatan di delapan provinsi. Ketika wabah pertama kali dinyatakan pada Mei, kasus hanya ditemukan di tiga zona kesehatan.
Sekitar 80 persen kasus yang tercatat berasal dari orang yang sebelumnya tidak masuk dalam daftar kontak yang dipantau. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya rantai penularan yang belum terdeteksi.
CDC Afrika menyebut setidaknya 95 persen kasus idealnya berasal dari kontak yang telah diketahui agar wabah dapat dinilai sebagian besar terkendali.
Tantangan lainnya adalah rendahnya jumlah pasien yang datang untuk mendapatkan perawatan. Setidaknya separuh kematian terjadi pada orang yang belum sempat dirawat di pusat perawatan Ebola.
Di tengah situasi tersebut, sekitar 2.600 pasien telah dinyatakan sembuh. Momen tersebut menjadi harapan bagi masyarakat yang terdampak wabah.
Namun, petugas kesehatan masih menghadapi ancaman. Seorang perawat tewas dan sejumlah petugas lainnya terluka dalam serangan ketika menangani peringatan Ebola di Bafwasende, Provinsi Tshopo, Sabtu lalu.
Masalah pembayaran upah dan bonus juga memicu aksi mogok petugas kesehatan di sejumlah wilayah.
Wabah tersebut turut mengganggu layanan kesehatan lainnya, termasuk imunisasi anak dan penanganan kolera. Layanan kesehatan ibu juga terdampak karena sebagian ibu hamil menghindari rumah sakit akibat khawatir tertular Ebola.
Dampaknya meluas ke pendidikan dan perekonomian masyarakat. Sekolah terganggu, sementara keluarga yang terdampak menghadapi trauma, stigma, dan semakin beratnya tekanan ekonomi. [AP/abc news]