Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Kapal Induk Charles de Gaulle Bergerak ke Hormuz, Prancis Siapkan Misi Keamanan

Kapal Induk Charles de Gaulle Bergerak ke Hormuz, Prancis Siapkan Misi Keamanan

Kamis, 07 Mei 2026 19:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Kapal induk Prancis Charles de Gaulle di lepas pantai pulau Kreta, Yunani, 27 April 2026 [Foto: AFP]


DIALEKSIS.COM | Paris - Pemerintah Prancis mengirim kapal indukbertenaga nuklir Charles de Gaulle menuju kawasan Laut Merah dan Selat Hormuz sebagai persiapan kemungkinan misi internasional untuk memulihkan keamanan pelayaran di jalur strategis tersebut.

Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis pada Rabu (6/5/2026) menyebut kapal induk itu sedang bergerak ke arah selatan Terusan Suez. Langkah ini dilakukan di tengah memanasnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang membuat Selat Hormuz praktis lumpuh.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen perdagangan minyak global melintasi kawasan itu.

Presiden Prancis Emmanuel Macron bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer disebut tengah mendorong pembentukan misi multinasional untuk menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Paris menegaskan operasi tersebut bersifat defensif dan baru akan dijalankan setelah perang berakhir.

“Langkah ini dapat membantu memulihkan kepercayaan pemilik kapal dan perusahaan asuransi,” tulis Macron melalui akun X miliknya.

Ia menegaskan misi itu tidak akan berpihak kepada pihak mana pun yang terlibat perang.

Macron juga mengaku telah berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan berencana membahas isu tersebut dengan Presiden AS Donald Trump.

Menurut Macron, stabilitas di Selat Hormuz dapat membuka jalan bagi negosiasi yang lebih luas terkait program nuklir Iran, rudal balistik, hingga situasi keamanan kawasan Timur Tengah.

Pemerintah Prancis menyebut proposal tersebut dirancang sebagai solusi yang menguntungkan kedua pihak. Iran diharapkan mendapat akses kembali bagi kapal-kapalnya melintasi Selat Hormuz, sementara Teheran diminta berkomitmen melanjutkan perundingan terkait isu nuklir dan rudal.

Sebaliknya, Amerika Serikat diharapkan mencabut blokade di Selat Hormuz sebagai imbalan atas komitmen Iran untuk kembali ke meja perundingan.

Di saat bersamaan, Iran mengaku masih meninjau proposal terbaru dari AS yang diklaim Presiden Trump dapat mengakhiri perang.

Trump pada Rabu mengatakan negosiasi menunjukkan perkembangan positif, tetapi juga mengancam akan melanjutkan serangan militer jika Teheran menolak proposal Washington.

Namun Iran membantah laporan yang menyebut kesepakatan damai sudah hampir tercapai. Teheran menyatakan belum memberikan jawaban resmi kepada mediator dari Pakistan.

Laporan Reuters menyebut kedua negara hampir menyepakati memorandum satu halaman untuk mengakhiri konflik secara formal. Sementara Axios melaporkan Iran kemungkinan akan menyetujui penghentian pengayaan uranium selama sedikitnya 12 tahun dan tidak mengembangkan senjata nuklir.

Sebagai imbalannya, AS disebut akan mencabut sanksi ekonomi dan membuka blokir aset Iran bernilai miliaran dolar.

Kesepakatan itu juga disebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari setelah penandatanganan.

Meski demikian, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa proses pembahasan proposal masih berlangsung dan belum ada keputusan final dari Teheran. [AlJazeera, Reuters & AP]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI