Jum`at, 26 Juni 2026
Beranda / Berita / Dunia / Tunawisma di Tijuana Diduga Jadi Kelinci Percobaan Fentanil Kartel Meksiko

Tunawisma di Tijuana Diduga Jadi Kelinci Percobaan Fentanil Kartel Meksiko

Kamis, 25 Juni 2026 23:50 WIB

Font: Ukuran: - +

Sejumlah pengguna fentanyl yang mengalami dampak serius akibat penyalahgunaan opioid sintetis tersebut. Foto: Reuters/Daniel Cole


DIALEKSIS.COM | Internasional - Peristiwa itu sudah lama terjadi, sejak 2020 silam. Namun, cerita kelam dari Tijuana, kota perbatasan Meksiko yang berdekatan dengan Amerika Serikat, masih menyisakan keresahan publik.

Sejumlah tunawisma yang tinggal di sekitar kanal Sungai Tijuana ditemukan tewas dalam kondisi tidak wajar. Hasil otopsi menunjukkan sebagian korban meninggal setelah mengonsumsi fentanil, opioid sintetis yang dikenal sangat kuat dan mematikan.

Dua jurnalis Meksiko, Manuel Ayala dan fotografer Joebeth Terriquez, mengungkap temuan mengejutkan saat menyelidiki kehidupan tunawisma dan penggunaan fentanil di kawasan tersebut. Dalam laporan yang dikutip Border Report, keduanya menemukan dugaan bahwa kartel narkoba memproduksi dan mengedarkan fentanil di sekitar kanal Sungai Tijuana.

Lebih mengerikan lagi, para tunawisma disebut dimanfaatkan sebagai “kelinci percobaan” untuk menguji kekuatan zat tersebut sebelum diedarkan lebih luas.

Dalam investigasi itu, Ayala dan Terriquez menyaksikan langsung sejumlah pengedar datang menggunakan mobil dan membagikan fentanil secara gratis kepada tunawisma di sepanjang tepi kanal. Pemberian secara cuma-cuma itu diduga dilakukan untuk melihat reaksi pengguna setelah mengonsumsi zat tersebut.

“Mereka memberikannya secara gratis untuk melihat bagaimana efek obat itu terhadap orang-orang, bagaimana reaksi mereka setelah mengonsumsinya,” kata Ayala, seperti dilaporkan Border Report.

Menurut Ayala, dalam beberapa bulan terakhir sedikitnya 20 orang meninggal dunia akibat overdosis setelah mengonsumsi fentanil gratis. Namun, ia meyakini jumlah korban sebenarnya jauh lebih besar karena banyak kasus kematian tunawisma tidak diselidiki secara serius.

“Sayangnya, polisi dan masyarakat tidak peduli dengan orang-orang ini. Kita sebenarnya tidak tahu siapa yang meninggal dan berapa banyak yang telah meninggal,” ujar Ayala.

Fentanil merupakan obat penghilang rasa sakit sintetis yang disebut memiliki kekuatan sekitar 50 hingga 100 kali lebih kuat dibanding morfin. Dalam penggunaan ilegal, zat ini kerap dicampur dengan heroin atau narkoba lain sehingga meningkatkan risiko overdosis fatal.

Ayala menyebut, praktik menjadikan tunawisma sebagai penguji fentanil diduga membantu kartel merancang produk yang lebih kuat. Sebagian besar fentanil itu disebut akan diselundupkan ke Amerika Serikat, pasar besar bagi perdagangan opioid sintetis.

Krisis fentanil memang telah menjadi salah satu persoalan narkotika paling serius di Amerika Serikat. National Institute on Drug Abuse menyebut fentanil sebagai opioid sintetis yang sangat kuat dan berbahaya jika digunakan tanpa pengawasan medis.

Sementara itu, laporan The Guardian mengungkap jaringan internasional yang dibangun kartel Meksiko dalam bisnis fentanil. Sejak 2016, organisasi kriminal Meksiko disebut menggunakan strategi layaknya perusahaan: memaksimalkan keuntungan, memakai tenaga spesialis, dan terus beradaptasi mengikuti perubahan regulasi internasional.

Meski pemimpin paling terkenal Kartel Sinaloa, Joaquín “El Chapo” Guzmán, telah dipenjara, kelompok itu tetap disebut sebagai salah satu kekuatan dominan dalam perdagangan narkoba. Laporan Badan Anti Narkoba Amerika Serikat atau DEA pada Oktober 2019 juga menggambarkan Kartel Sinaloa sebagai salah satu produsen dan penyelundup fentanil berbasis Meksiko ke Amerika Serikat.

Kasus Tijuana memperlihatkan sisi paling gelap dari bisnis fentanil. Di balik rantai perdagangan narkoba internasional yang bernilai besar, ada kelompok paling rentan yang justru menjadi korban pertama: tunawisma, pecandu, dan warga miskin yang nyaris tak terlihat oleh negara.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes