Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Trump Desak Iran Menyerah Tanpa Syarat, Upaya Diplomasi Terancam Buntu

Trump Desak Iran Menyerah Tanpa Syarat, Upaya Diplomasi Terancam Buntu

Sabtu, 07 Maret 2026 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Foto: Antara


DIALEKSIS.COM | Internasional - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendesak Iran untuk menyerah tanpa syarat setelah perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berlangsung lebih dari sepekan.

Melalui unggahan di akun Truth Social pada Jumat (6/3), Trump menegaskan tidak akan ada kesepakatan dengan Teheran kecuali negara itu menyerah sepenuhnya.

“Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali penyerahan tanpa syarat,” tulis Trump.

Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan bahwa sejumlah negara telah mulai melakukan upaya mediasi untuk menghentikan konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.

Menurut Pezeshkian, meski tidak merinci negara yang terlibat dalam proses tersebut, upaya diplomatik sedang berjalan untuk meredakan ketegangan.

“Kami berkomitmen pada perdamaian yang berkelanjutan di kawasan, tetapi tidak akan ragu membela martabat dan kedaulatan negara kami,” ujar Pezeshkian.

Trump juga menyatakan bahwa setelah tuntutan penyerahan tanpa syarat dipenuhi dan Iran memiliki pemimpin tertinggi baru yang dapat diterima oleh Amerika Serikat, Washington bersama sekutunya siap membantu pemulihan ekonomi negara tersebut.

Sebelumnya, Trump juga menyatakan ingin memiliki peran dalam menentukan siapa pemimpin tertinggi Iran berikutnya, menggantikan Ali Khamenei yang dilaporkan tewas pada hari pertama konflik.

Namun, Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, menegaskan bahwa pemimpin baru Iran akan dipilih sesuai dengan konstitusi negara itu tanpa campur tangan pihak asing.

“Pemimpin baru Iran akan dipilih berdasarkan mekanisme konstitusional kami,” kata Iravani.

Di tengah eskalasi konflik, Iran melaporkan sedikitnya 1.332 warga sipil tewas dan ribuan lainnya mengalami luka-luka sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

Teheran menuduh Amerika Serikat dan Israel sengaja menargetkan infrastruktur sipil. Sebaliknya, Iran menyatakan serangannya hanya diarahkan pada sasaran militer.

Serangan balasan Iran juga dilaporkan menewaskan 11 orang di Israel, sementara enam tentara Amerika Serikat dilaporkan tewas sejak konflik dimulai.

Seorang pejabat Amerika Serikat kepada Reuters menyebut penyelidik militer sedang menelusuri kemungkinan keterlibatan pasukan AS dalam serangan yang mengenai sebuah sekolah perempuan di Iran pada hari pertama perang, yang dilaporkan menewaskan ratusan anak. Penyelidikan atas insiden tersebut masih berlangsung.

Ketegangan yang terus meningkat juga berdampak pada pasar global. Indeks saham di Eropa dan Amerika Serikat dilaporkan merosot tajam, sementara harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi sejak 2023 akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi.

Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pecah pada 28 Februari lalu setelah serangan awal yang menargetkan Teheran terjadi di tengah berlangsungnya negosiasi terkait program nuklir Iran.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI