Beranda / Berita / Dunia / Ribuan Petani India Protes, Delhi Berubah Jadi Benteng

Ribuan Petani India Protes, Delhi Berubah Jadi Benteng

Selasa, 13 Februari 2024 19:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Perbatasan Delhi telah ditutup untuk mencegah petani memasuki kota. [Foto: Getty Images]


DIALEKSIS.COM | Dunia - Polisi di India utara telah menembakkan gas air mata untuk mencegah ribuan petani yang melakukan protes di Delhi. Para petani menuntut harga minimum untuk produksi tanaman mereka. 

Ibu kota ini dikelilingi oleh kawat berduri, balok semen, dan pagar di tiga sisinya untuk mencegah protes.

Pemerintah khawatir kejadian tahun 2020 terulang kembali. Puluhan orang tewas dalam protes selama setahun yang berakhir  setelah para menteri setuju untuk mencabut undang-undang pertanian yang kontroversial.

Namun dua tahun kemudian, para petani mengatakan bahwa tuntutan lainnya belum terpenuhi.

Para petani India merupakan kelompok pemilih yang berpengaruh dan para analis mengatakan pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi akan berupaya untuk tidak mengasingkan mereka. Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpinnya sedang mengincar masa jabatan ketiga berturut-turut dalam pemilihan umum tahun ini.

Para petani, yang sebagian besar berasal dari Punjab, mengatakan mereka ingin menyeberangi Haryana dengan damai untuk mencapai Delhi, namun mereka tidak diizinkan melakukannya. Bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa juga dilaporkan terjadi di perbatasan Shambhu dan situasi masih tegang.

Kemacetan dan gangguan lalu lintas dilaporkan terjadi di seluruh Delhi pada hari Selasa (13/2/2024) ketika pihak berwenang memblokir jalan dan mengalihkan lalu lintas.

Polisi juga melarang pertemuan besar di kota tersebut, termasuk di titik perbatasan antara Delhi dan negara bagian tetangganya, Uttar Pradesh dan Haryana, yang merupakan jalur yang diharapkan para petani dapat mencapai ibu kota.

Di Haryana, pemerintah negara bagian yang dipimpin BJP telah menangguhkan layanan internet di tujuh distrik hingga Selasa. Dua kali perundingan antara pemimpin serikat petani dan menteri federal sejauh ini gagal memecahkan kebuntuan.

Para petani meminta harga dasar yang terjamin, juga dikenal sebagai harga dukungan minimum atau MSP, yang memungkinkan mereka menjual sebagian besar produk mereka di pasar grosir atau mandis yang dikendalikan pemerintah. Mereka juga menuntut pemerintah memenuhi janjinya untuk menggandakan pendapatan petani.

Serikat petani dan serikat pekerja juga telah mengumumkan pemogokan pedesaan pada tanggal 16 Februari 2024 dimana tidak ada kegiatan pertanian yang akan dilakukan. Toko-toko, pasar dan perkantoran di seluruh desa akan ditutup sementara para petani akan memblokir jalan-jalan utama di seluruh negeri. [bbc]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
Komentar Anda