DIALEKSIS.COM | AS - Militer Amerika Serikat (AS) melanjutkan operasi militer terhadap Iran untuk malam ketujuh berturut-turut hingga Sabtu (18/7/2026). Di saat yang sama, Kuwait dan Bahrain melaporkan serangan proyektil dan drone yang diklaim berasal dari Iran, sementara aktivitas pelayaran komersial di kawasan Teluk masih mengalami gangguan.
Perkembangan ini menunjukkan gencatan senjata sementara yang dimediasi kedua negara bulan lalu semakin rapuh. Kesepakatan tersebut sebelumnya ditujukan untuk meredakan konflik yang pecah setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari serta membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan Teheran telah menangguhkan seluruh komitmennya terhadap nota kesepahaman dengan Amerika Serikat.
Menurutnya, keputusan itu diambil karena Washington dinilai lebih dulu melanggar seluruh isi kesepakatan.
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi militer yang berakhir pada Jumat pukul 21.30 waktu setempat menargetkan infrastruktur logistik militer, gudang senjata bawah tanah, serta kemampuan maritim Iran.
CENTCOM juga menegaskan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih terus diberlakukan.
Selain itu, militer AS mengklaim telah menghentikan sejumlah kapal komersial selama tiga hari pertama penerapan kembali blokade. Dari operasi tersebut, empat kapal dialihkan, satu kapal dilumpuhkan, dan satu kapal dinaiki untuk memastikan kepatuhan terhadap blokade.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan telah menghentikan empat kapal yang disebut bergerak di bawah perlindungan Amerika Serikat di Selat Hormuz.
Menurut IRGC, keempat kapal tersebut berhasil dihentikan melalui operasi gabungan rudal dan drone.
Ketegangan juga meluas ke negara-negara Teluk.
Pemerintah Kuwait melaporkan sistem pertahanan udaranya berhasil merespons ancaman drone, sementara serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik dan stasiun desalinasi air memicu kebakaran tanpa menimbulkan korban jiwa.
Serangan tersebut menjadi yang kedua dalam dua hari terakhir terhadap fasilitas air di Kuwait, negara yang hampir 90 persen kebutuhan air bersihnya bergantung pada proses desalinasi air laut.
Akibat situasi keamanan yang memburuk, Kuwait Airways menjadwal ulang sebagian besar penerbangannya karena adanya ancaman serangan rudal dan drone.
Sementara itu, Bahrain menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah proyektil yang ditembakkan Iran. Sirene peringatan juga dibunyikan untuk mengimbau warga tetap waspada.
Sebelumnya pada Jumat, Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap target militer Amerika Serikat yang berada di Suriah dan Bahrain. [cnbc]