Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Kasus Campak Melonjak, Bangladesh Akui Kekurangan Vaksin

Kasus Campak Melonjak, Bangladesh Akui Kekurangan Vaksin

Senin, 06 April 2026 15:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Seseorang memegang botol vaksin campak, gondongan, dan rubella. [Foto: iStock]


DIALEKSIS.COM | Dhaka - Pemerintah Bangladesh melaporkan sedikitnya 98 anak meninggal dunia akibat dugaan campak dalam tiga pekan terakhir, berdasarkan data resmi yang dirilis otoritas kesehatan. Lonjakan kasus ini mendorong pemerintah meningkatkan upaya vaksinasi, terutama di ibu kota Dhaka dan wilayah terdampak lainnya.

Langkah penanganan dipercepat setelah Perdana Menteri Tarique Rahman pekan lalu menginstruksikan dua menteri senior untuk melakukan peninjauan nasional. Kunjungan tersebut bertujuan menilai skala krisis serta memperkuat koordinasi respons terhadap penyebaran penyakit di negara berpenduduk sekitar 170 juta jiwa itu.

Data Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga menunjukkan jumlah anak usia enam bulan hingga lima tahun dengan gejala campak meningkat menjadi 6.476 kasus. 

“Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, jumlah anak yang terdampak lebih tinggi, dan angka kematiannya juga lebih tinggi,” ujar Halimur Rashid, Direktur Pengendalian Penyakit Menular.

Menurut World Health Organization (WHO), campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia dan menyebar melalui droplet saat penderita batuk atau bersin. Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pembengkakan otak dan gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak.

Secara global, WHO memperkirakan sekitar 95.000 kematian akibat campak terjadi setiap tahun, mayoritas pada anak di bawah lima tahun yang belum mendapatkan vaksin lengkap. Di Bangladesh, jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 826 dengan 16 kematian, meskipun para ahli menyebut banyak kasus tidak terdeteksi karena keterbatasan pengujian.

Lonjakan wabah ini diduga dipicu oleh berbagai faktor, termasuk kekurangan vaksin. Program imunisasi campak yang semula dijadwalkan pada Juni 2024 mengalami penundaan akibat gejolak politik yang menggulingkan mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina.

“Kami berkomitmen menekan kasus hingga nol pada Desember 2025, tetapi target itu gagal tercapai karena program vaksinasi yang buruk,” kata Mahmudur Rahman, Ketua Komite Verifikasi Nasional Campak dan Rubella.

Sebagai respons, pemerintah telah mengidentifikasi 30 wilayah paling terdampak dan mulai menjalankan program vaksinasi darurat. Menteri Kesehatan Sardar Shakhawat Hossain Bakul menyatakan program tersebut akan difokuskan terlebih dahulu pada daerah dengan risiko tertinggi sebelum diperluas ke wilayah lain.

Sementara itu, pakar kesehatan masyarakat Tajul Islam A Bari menilai krisis ini merupakan akibat dari kegagalan pengadaan vaksin meski anggaran telah tersedia. “Sekarang kita melihat hasilnya. Situasinya menakutkan,” ujarnya. [AFP]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI