DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Kesehatan memastikan sistem pemantauan penyakit atau surveilans tetap berjalan optimal di tengah penurunan kasus campak di Indonesia. Hingga pekan ke-12 tahun 2026, jumlah kasus harian dilaporkan merosot hingga 93 persen dibandingkan awal tahun.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, mengatakan bahwa penurunan tersebut terpantau melalui sistem pelaporan berbasis digital yang terus beroperasi secara real-time.
Menurut dia, pemerintah mengandalkan metode New All Record (NAR) serta Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) untuk memonitor perkembangan kasus dari fasilitas layanan kesehatan di seluruh daerah.
“Data yang masuk tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga diverifikasi secara berlapis dengan dinas kesehatan setempat, sehingga akurasinya tetap terjaga,” ujar Andi.
Ia menambahkan, meski sempat muncul kekhawatiran terkait potensi gangguan pelaporan selama periode libur Lebaran, Kemenkes memastikan tidak ada penurunan kualitas data. Sistem surveilans disebut tetap aktif tanpa jeda, sehingga tren kasus dapat dipantau secara konsisten.
Berdasarkan data tersebut, penurunan kasus terlihat merata di sejumlah wilayah yang sebelumnya mengalami lonjakan pada akhir 2025 hingga awal 2026.
Kendati demikian, Kemenkes tetap mengingatkan bahwa risiko penularan masih ada. Hingga saat ini, tercatat sejumlah kasus berat, termasuk yang berujung kematian, terutama pada kelompok dengan faktor risiko tertentu.
Karena itu, pemerintah terus memperkuat respons, termasuk mendorong peningkatan cakupan vaksinasi dan memastikan kesiapan fasilitas kesehatan dalam mendeteksi serta menangani kasus secara dini.
Kemenkes juga mengimbau masyarakat dan tenaga kesehatan untuk tetap waspada, segera melapor jika mengalami gejala, serta melengkapi imunisasi guna mencegah penyebaran lebih lanjut. [in]