Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Jarang Muncul di Publik, Putra Khamenei Kini Pimpin Iran

Jarang Muncul di Publik, Putra Khamenei Kini Pimpin Iran

Senin, 09 Maret 2026 15:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan Ali Khamenei ayahnya yang terbunuh oleh Amerika dan Israel. Foto: Ist/TNA


DIALEKSIS.COM | Teheran - Mojtaba Khamenei, putra dari mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Penunjukan itu diputuskan oleh Majelis Ahli Iran, sekitar sepuluh hari setelah sang ayah tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di ibu kota Teheran pada 28 Februari lalu.

Serangan udara tersebut juga menewaskan ibu Mojtaba serta istrinya, Zahra Haddad-Adel, setelah kompleks kediaman keluarga Khamenei di Teheran menjadi sasaran serangan. Mojtaba sendiri dilaporkan selamat dari serangan tersebut, meski harus kehilangan sejumlah anggota keluarga lain, termasuk saudara perempuan, kakak ipar, dan beberapa keponakan.

Dilaporkan oleh Anadolu Agency, Zahra Haddad-Adel meninggal akibat serangan udara yang menghantam kediaman keluarga tersebut. Peristiwa itu menjadi salah satu momen paling dramatis dalam sejarah politik Iran dalam beberapa dekade terakhir.

Berbeda dengan ayahnya yang dikenal luas di panggung politik internasional, Mojtaba Khamenei selama ini dikenal sangat tertutup. Ia tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan, jarang tampil di depan publik, serta hampir tidak pernah memberikan pidato atau wawancara.

Bahkan, menurut laporan BBC, banyak warga Iran yang belum pernah mendengar suara Mojtaba meski ia merupakan putra dari pemimpin tertinggi negara tersebut.

Meski jarang tampil di ruang publik, Mojtaba diyakini memiliki pengaruh yang cukup besar di lingkaran kekuasaan Iran selama bertahun-tahun. Putra kedua Ali Khamenei ini kerap dijuluki sebagai “pangeran bayangan” karena disebut berperan penting dalam mengelola lingkaran dalam kekuasaan ayahnya.

Ia juga disebut memiliki pengaruh signifikan terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta sejumlah badan intelijen Iran.

Direktur lembaga pemikir DiploHouse di Teheran, Hamid Reza Gholamzadeh, menegaskan bahwa penunjukan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi tidak dipengaruhi oleh mendiang ayahnya.

Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, Gholamzadeh mengatakan proses pemilihan sepenuhnya berada di tangan Majelis Ahli Iran.

“Ini tidak ada hubungannya dengan ayahnya. Majelis Ahli bertanggung jawab melakukan penilaian teknis terhadap tokoh-tokoh yang mungkin dipilih dan menentukan siapa yang paling memenuhi kriteria berdasarkan konstitusi,” ujarnya.

Menurutnya, meskipun tidak memiliki pengalaman eksekutif formal, pemimpin tertinggi Iran tidak selalu dituntut memiliki latar belakang pemerintahan langsung.

“Yang penting adalah pemahaman terhadap situasi negara dan tantangan kekuasaan eksekutif. Semakin baik pemahaman itu, semakin efektif ia menjalankan peran tersebut,” katanya.

Sementara itu, kabel diplomatik Amerika Serikat yang pernah dipublikasikan oleh WikiLeaks pada akhir 2000-an menggambarkan Mojtaba sebagai “kekuatan di balik jubah”, istilah yang merujuk pada sosok yang cakap dan berpengaruh di balik layar kekuasaan.

Sejumlah analis menilai terpilihnya Mojtaba Khamenei berpotensi membuat Iran tetap berada di jalur politik garis keras, bahkan mungkin lebih tegas dibandingkan sebelumnya.

Terlebih, setelah kehilangan ayah, ibu, dan istrinya dalam serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel, banyak pihak memperkirakan Mojtaba tidak akan mudah tunduk pada tekanan politik Barat.

Situasi ini dinilai berpotensi memperuncing dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah dalam waktu mendatang.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI