Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / China Sesalkan Berakhirnya New START, Desak AS–Rusia Lanjutkan Dialog Nuklir

China Sesalkan Berakhirnya New START, Desak AS–Rusia Lanjutkan Dialog Nuklir

Minggu, 08 Februari 2026 13:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi bendera negara China. Foto: Ist/net

DIALEKSIS.COM | Internasional - Pemerintah China angkat suara menyusul berakhirnya Perjanjian Pengendalian Senjata Nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, New START (Strategic Arms Reduction Treaty), yang masa berlakunya resmi berakhir pada pekan lalu.

Berakhirnya perjanjian yang telah menjadi pilar pengendalian senjata nuklir strategis selama lebih dari setengah abad itu dinilai membuka peluang bagi Washington dan Moskow untuk kembali menambah jumlah hulu ledak nuklir, sekaligus berpotensi memicu perlombaan senjata baru di tingkat global.

Kementerian Luar Negeri China pada Kamis menyatakan penyesalannya atas berakhirnya New START dan mendorong Amerika Serikat agar segera membuka kembali dialog dengan Rusia mengenai stabilitas strategis.

“China menyesalkan berakhirnya Perjanjian New START, karena perjanjian ini memiliki arti yang sangat penting bagi pemeliharaan stabilitas strategis global,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, seperti dikutip AFP.

Menurut Lin, komunitas internasional secara luas menaruh kekhawatiran bahwa berakhirnya perjanjian tersebut akan berdampak negatif terhadap sistem pengendalian senjata nuklir internasional serta tatanan keamanan nuklir dunia.

Perjanjian New START resmi berakhir pada Rabu malam, sekaligus menandai berakhirnya era panjang pembatasan kuantitatif senjata nuklir strategis antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia.

Di sisi lain, Rusia menyatakan tetap terbuka untuk pembicaraan keamanan, namun menegaskan akan merespons secara tegas setiap ancaman baru terhadap kepentingannya. Moskow juga mengusulkan agar kedua pihak tetap menghormati batasan-batasan utama yang sebelumnya diatur dalam New START.

China pun mendesak Amerika Serikat agar merespons sikap konstruktif Rusia tersebut secara positif.

“China menyerukan agar Amerika Serikat merespons secara positif, menangani pengaturan lanjutan perjanjian ini secara bertanggung jawab, dan sesegera mungkin melanjutkan dialog stabilitas strategis dengan Rusia. Ini juga merupakan harapan umum komunitas internasional,” kata Lin.

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri China kembali menegaskan bahwa Beijing tetap berpegang pada strategi nuklir untuk pertahanan diri.

“China secara konsisten menganut strategi nuklir defensif, mematuhi kebijakan tidak menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu, serta membuat komitmen tanpa syarat untuk tidak menggunakan atau mengancam penggunaan senjata nuklir terhadap negara non-nuklir maupun kawasan bebas senjata nuklir,” ujar Lin.

Ia menambahkan bahwa China menjaga kekuatan nuklirnya pada tingkat minimum yang diperlukan untuk menjamin keamanan nasional. Lin juga menegaskan bahwa kapasitas nuklir China jauh lebih kecil dibandingkan Amerika Serikat dan Rusia.

“Kekuatan nuklir China tidak berada pada level yang sama dengan Amerika Serikat dan Rusia, dan China tidak akan berpartisipasi dalam perundingan perlucutan senjata bilateral pada tahap ini,” katanya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI