Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / AS-Iran Buntu Negosiasi, Israel Siap Ambil Opsi Militer

AS-Iran Buntu Negosiasi, Israel Siap Ambil Opsi Militer

Sabtu, 02 Mei 2026 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. Foto: Antara/Anadolu Ajansi/pri.


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Amerika Serikat dan Iran belum menemukan titik temu untuk melanjutkan negosiasi damai. Kebuntuan ini membuat Washington dan sekutu dekatnya, Israel, kembali membuka peluang serangan militer terhadap Iran.

Pejabat senior militer Iran, Mohammad Jafar Asadi, memperkirakan konflik besar antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi kembali pecah.

“Konflik baru antara Iran dan Amerika Serikat kemungkinan terjadi,” kata Asadi dalam laporan media semi-pemerintah Iran, Fars News, sebagaimana dikutip AFP, Sabtu (2/5/2026).

Asadi menilai Amerika Serikat tidak menunjukkan komitmen terhadap kesepakatan yang pernah dibangun.

“Bukti sudah menunjukkan Amerika Serikat tak berkomitmen terhadap perjanjian atau kesepakatan apa pun,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Kehakiman Iran Gholamhossein Mohseni Ejei menegaskan Teheran tidak pernah menghindari negosiasi. Namun, Iran menolak menerima syarat perdamaian yang dianggap sebagai bentuk pemaksaan.

Di sisi lain, Israel juga mulai memberi sinyal keras. Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, menyebut pemerintahnya akan mempertimbangkan perang dengan Iran sesegera mungkin demi mencapai tujuan keamanan yang diinginkan.

Katz mengatakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump terus berkoordinasi erat. Menurutnya, koordinasi itu dilakukan untuk memastikan Iran tidak menjadi ancaman bagi Israel maupun Amerika Serikat.

“Kami mendukung upaya-upaya ini dan memberi dukungan yang diperlukan, tapi kami mungkin harus bertindak lagi untuk memastikan tujuan-tujuan itu tercapai,” kata Katz dalam pidato pada acara promosi komandan baru Angkatan Udara Israel, dikutip Middle East Monitor.

Pernyataan itu muncul setelah Trump mengaku tidak puas dengan proposal terbaru dari Teheran. Meski demikian, Trump tidak menjelaskan bagian mana dari proposal tersebut yang ditolak.

Gedung Putih juga belum memberikan rincian terkait proposal baru Iran. Namun, utusan AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff sebelumnya mengajukan sejumlah perubahan agar program nuklir Iran kembali masuk ke meja perundingan.

Perubahan itu mencakup tuntutan agar Iran tidak memindahkan uranium yang telah diperkaya dari lokasi yang dibom, serta tidak melanjutkan aktivitas di lokasi tersebut selama proses perundingan berlangsung.

AS dan Iran sempat menggelar perundingan damai di Islamabad, Pakistan, pada pekan kedua April 2026. Namun, negosiasi tersebut berakhir buntu.

Pemerintahan Trump menuntut Iran menghentikan program nuklirnya dan menyerahkan uranium yang telah diperkaya. Teheran menolak tegas tuntutan tersebut.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI