DIALEKSIS.COM | Belanda - Sebuah kisah inspiratif datang dari Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. DR. Dr. Hendra Zufry, SpPD-KEMD, FINASIM, kini tengah menempuh langkah besar di dunia akademik internasional melalui program International Fellowship of Endocrinology di Erasmus Medical Center, Rotterdam, Belanda.
Perjalanan ini bukanlah sesuatu yang instan. Dengan tekad dan kesabaran, ia telah memulai proses sejak tahun lalu mengajukan aplikasi, mengikuti berbagai tahapan seleksi, hingga menjalani pemeriksaan kesehatan. Semua itu ia lalui demi satu tujuan: belajar dan membawa pulang ilmu terbaik untuk Aceh.
“Alhamdulillah, saya bisa belajar di sini secara gratis. Ini kesempatan luar biasa yang saya syukuri,” ungkapnya saat bercerita kepada Dialeksis, Selasa (28/4/2026).
Berada di salah satu pusat medis terbaik di Eropa, Hendra mendalami bidang tiroidologi, pituitari, dan endokrinologi onkologi bidang yang sangat penting dalam penanganan penyakit-penyakit kompleks. Bahkan, dalam waktu yang sangat singkat, ia dipercaya untuk berbagi ilmu melalui kuliah kepada komunitas akademik di sana.
Namun, pencapaian ini bukan hanya tentang dirinya. Ini tentang Aceh.
Dengan penuh harapan, ia ingin membawa perubahan nyata bagi pengembangan Endokrinologi di RSUD dr. Zainoel Abidin dan FK USK. Ia –———— bercita-cita membangun kerja sama internasional melalui program sister hospital dengan Erasmus Medical Center, serta membuka peluang kolaborasi riset dan transfer ilmu secara berkelanjutan.
Sebelum tiba di Belanda, Hendra juga telah mengharumkan nama Indonesia sebagai pembicara dalam Asia Oceania Congress of Endocrinology 2026 di Taipei, Taiwan menjadi salah satu dari tiga perwakilan Indonesia yang diundang, dan satu-satunya dari wilayah paling barat Indonesia.
Perjalanannya pun belum berhenti. Pada akhir Mei mendatang, ia dijadwalkan kembali menjadi pembicara dalam konferensi internasional di Beijing, China.
Dari Aceh ke dunia, langkah Dr. Hendra Zufry menjadi bukti bahwa batas geografis bukanlah penghalang untuk berkontribusi di panggung global. Dengan semangat belajar dan berbagi, ia membawa harapan besar: ilmu yang didapat hari ini akan menjadi manfaat bagi masyarakat esok hari.
“Mohon doa, semoga semua ini bisa memberi manfaat untuk kita semua, khususnya bagi pengembangan ilmu dan pelayanan di Aceh,” tuturnya. [arn]