Logo Dialeksis
Beranda / Dialog / Peristiwa Teror Plt Kepala ULP Aceh, Sandiwara atau Realita?

Peristiwa Teror Plt Kepala ULP Aceh, Sandiwara atau Realita?

Selasa, 24 Maret 2020 07:00 WIB

Font: Ukuran: - +


Anggota Komisi III DPR RI, Muhammad Nasir Djamil. [Foto: IST/Dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Rumah Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP) Provinsi Aceh, Sayid Azhary dilempari dua granat nenas oleh orang tidak dikenal pada Jumat (20/3/2020) sekitar pukul 21.12 WIB.

Diketahui dari kedua bom yang dilempari di kediamananya di Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, satu unit meledak. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Merespon kondisi tersebut, Dialeksis.com berdialog dengan Anggota Komisi III DPR RI sekaligus Ketua Forum Bersama (Forbes) Anggota DPR dan DPD RI asal Aceh, Muhammad Nasir Djamil pada Senin (23/3/2020). Berikut petikan wawancaranya.

Peristiwa pelemparan granat di rumah Plt Kepala ULP Aceh, apa komentar bapak?

Iya, ada banyak pendapat yang bermunculan menanggapi peristiwa tersebut. Bisa jadi direkayasa. Makanya perlu diselidiki secara mendalam, apakah peristiwa ini sandiwara atau memang realita alamiah.

Kalau ini sandiwara, untuk siapa ini dimainkan, untuk melindungi siapa dan untuk memuluskan proyek siapa. Itu menjadi pertanyaan yang perlu diungkap oleh aparat penegak hukum. 

Kalau realita. Sebenarnya tidak sulit juga menjumpai seorang Kepala ULP. Kalau mau, apa sulitnya untuk menjumpai seorang Kepala ULP. Kan bisa di kantor, di pasar atau di warung kopi.

 ini bukan berarti kita mau minta dia korban cedera fisik dan sebagainya ya. Kecuali memang dari bersangkutan yang sengaja tidak ingin bertemu. 

Tetapi banyak tempat yang membuat kemungkinan orang (pelaku) bertemu Kepala ULP. Potensinya sangat besar. Nah, oleh karena itu, memang saya melihat kasus ini seperti sandiwara. Sebuah pembenaran bagi Kepala ULP melaksanakan dalam tanda kutip kemauan tertentu. Kita tidak tahu kemauannya apa dan kepada siapa.

Bisa jadi (skemanya dibuat) seperti itu. Sehingga orang lain tidak bisa dekat.

Apakah ini sebuah upaya menciptakan kewajaran atau kepentingan tertentu?

Iya, bisa jadi. Bahasanya seolah-olah ada semacam pembenaran dengan sejumlah isu miring terkait dengan lelang proyek di lingkungan Pemerintah Aceh.

Nah, oleh karena itu, kita minta kepada Polda Aceh harus sigap. Jangan terpengaruh dengan pihak berpengaruh untuk menghentikan kasus penggranatan. Tapi dalami apa sebenarnya di balik semua itu.

Pengungkapan kasus ini penting, supaya ke depan tidak ada lagi model-model seperti itu. Ada granat-granat lagi. Sudah dua kali kejadian pertama nasus tahun 2014 mantan Kepala Inspektorat Aceh Syarul dan tahun 2015 (mantan Kepala Dinas Pengairan Syamsul Rizal).

Beberapa tahun lalu juga terjadi hal yang sama di Inspektorat. Bagaimana bapak melihatnya dengan kejadian ini?

Nah, kasus ini sebenarnya sebagai pemantik. Apakah Polda Aceh serius (mengungkap), karena kasus itu menggunakan granat nenas. Menarik dibuka siapa yang punya itu barang, dari mana dia (pelaku) peroleh, sama siapa dia peroleh dan kapan dia peroleh.

Aduh, menarik sekali ini. Punya nyali tidak Kapolda Aceh untuk mengungkap kasus tersebut secara terang-benderang.

Kalau kita lihat, kasus Novel Baswedan saja bisa ditemukan pelakunya ya kan. Masa yang kroco (kecil) begini tidak bisa. Ini bukan pernyataan seorang Nasir Djamil lho, saya hanya meneruskan saja pertanyaan teman-teman yang disampaikan teman-teman lewat WhatsApp saya.

Seberapa potensi Polda Aceh mengungkap kasus ini?

Jadi mereka kan tahu Kapolda Aceh yang baru ini penerima anugerah Adhi Makayasa, lulusan terbaik 1991. Nah, apakah predikat itu mampu membuat beliau mengungkap kasus tersebut, sehingga kasus-kasus sebelumnya bisa mendapat titik terang.

Akan ketemu nanti siapa pelaku di kasus ini dan pelaku di kasus-kasus lainnya. Menarik sekali lho ini, soal granat nenas. Siapa yang mengeluarkan dan produksi itu alat.

Kalau tidak bertuan, itu granat bisa jadi barang liar. Bisa jadi ada jual beli ilegal granat dan sebagainya. Intinya, jangan dianggap remeh walau tidak ada yang terluka di kasus ini. Justeru peristiwa ini jadi tabir untuk kasus lainnya.

Apa persepsi yang timbul kalau kasus ini tidak terungkap?

Mereka seolah-olah ingin bilang begini (ke Polda Aceh), "Coba lho, bisa ungkap gua atau tidak nih. Ini gua udah berapa kali lempar granat, kira-kira lho sanggup atau tidak". Kira-kira begitu.

Makanya saya katakan, teman-teman lain bilang, Kapolda kita ini punya nyali dan tertantang tidak, untuk mengungkap kasus ini secara terang-benderang.

Apa yang mendasari kecurigaan kasus ini hanya rekayasa atau ada kepentingan lain?

Iya, sebab dia menggunakan granat kan. Kalau dia menggunakan bom pakai sumbu, pakai minyak, itu barangkali. Tidak semua orang lho punya granat (nenas) ini. Hanya orang-orang yang dilegalisasi undang-undang, yang boleh punya otoritas itu.

Saya sebagai mitra beliau tentu sangat mendukung bila beliau punya kemauan kuat mengungkap kasus ini secara terang-benderang.

Dan terakhir, Kapolda-kapolda sebelumnya barangkali gagal karena ada sesuatu dan lain hal. Untuk itu, kita menaruh harapan besar kepada Kapolda Aceh yang baru ini mengungkap kasus tersebut hingga tuntas dan terang benderang.

Editor :
Redaksi

dalimi
utu lebaran
Komentar Anda
hendri budian