DIALEKSIS.COM | Nasional - Islam hadir dalam pemikiran sejumlah presiden Indonesia melalui beragam persoalan meliputi pembaruan cara beragama, kemajuan ilmu pengetahuan, penghormatan terhadap perbedaan, demokrasi, hingga kesejahteraan rakyat. Jejaknya tersimpan dalam tulisan pribadi, buku kajian tentang mereka, dan pidato yang terdokumentasi.
Enam buku yang mengangkat Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, dan Prabowo Subianto menjadi pintu masuk untuk membaca keragaman tersebut. Masing-masing lahir dari latar sejarah dan pendekatan yang berbeda.
Status buku-buku itu pun beragam. Islam Sontoloyo dan Islamku, Islam Anda, Islam Kita memuat tulisan Soekarno dan Abdurrahman Wahid. Sementara buku mengenai Habibie“Soeharto, SBY, Jokowi, dan Prabowo merupakan karya penulis lain. Pembedaan ini membantu menempatkan gagasan pribadi seorang tokoh dan penafsiran atas dirinya secara tepat.
Pada Soekarno, persoalan keislaman berkaitan erat dengan pembaruan pemikiran. Buku Islam Sontoloyo: Pikiran - Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam memperlihatkan kegelisahan Bung Karno terhadap cara memahami agama yang membatasi ruang berpikir.
Dalam resensi “Menilik Pemikiran Keislaman Bung Karno”, terbit 6 Juni 2024, NU Online Jawa Timur menjelaskan bahwa Soekarno mengkritik kecenderungan menjadikan fikih sebagai satu-satunya dasar memahami Islam. Resensi itu juga mencatat bantahan Soekarno terhadap anggapan bahwa dirinya anti-fikih.
Kegelisahan tersebut menjangkau persoalan perubahan masyarakat. Daftar isi edisi Basabasi yang tercatat di Google Books memuat tulisan tentang surat-surat Islam dari Ende, usaha memudakan pengertian Islam, hingga pembahasan mengenai pemisahan agama dan negara di Turki. Cakupannya menunjukkan luasnya persoalan yang digeluti Soekarno dalam membaca Islam dan perkembangan zaman.
Memasuki masa Soeharto dan Habibie, perhatian bergeser pada hubungan kekuasaan, umat Islam, serta peran kaum cendekiawan. Buku Habibie, Soeharto, dan Islam ditulis Adian Husaini. Katalog CiNii Books mencatat edisi pertamanya diterbitkan Gema Insani Press pada 1995.
Buku tersebut terbit ketika Soeharto masih memimpin Indonesia dan Habibie belum menjadi presiden. Karena itu, konteks hubungan keduanya pada masa Orde Baru menjadi bagian penting dalam membacanya.
Salah satu peristiwa penting pada masa tersebut ialah pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. Sejarah organisasi yang dimuat ICMI Jawa Barat mencatat ICMI berdiri di Malang pada 7 Desember 1990, dengan Habibie terpilih sebagai ketua umum pertama. Sebelumnya, ketika diminta memimpin organisasi itu, Habibie menyatakan perlu meminta izin Soeharto karena kedudukannya sebagai menteri.
Adapun gagasan keislaman Habibie memiliki penekanan kuat pada hubungan iman dan ilmu pengetahuan. Dalam laporan ANTARA, 11 September 2019, mantan presidium ICMI, Nanat Fatah Natsir, menyebut perpaduan iman dan takwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi di organisasi tersebut merupakan gagasan Habibie untuk membangun peradaban.
Dari kesaksian itu, pemikiran Habibie dapat dibaca sebagai upaya mempertemukan keyakinan beragama dengan kemampuan menguasai ilmu dan teknologi. Kemajuan umat memperoleh landasan spiritual sekaligus tuntutan untuk meningkatkan kapasitas intelektual.
Pada Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, perhatian terhadap keberagaman mendapat ruang luas. Buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, diterbitkan The Wahid Institute pada 2006, menghimpun esai mengenai hubungan Islam dengan negara, keadilan, ekonomi, pendidikan, dan perdamaian.
Dalam esai yang menjadi judul buku tersebut, Gus Dur menjelaskan bahwa pengalaman keagamaan seseorang dapat berbeda dari orang lain. “Islam Kita” diarahkan pada kepentingan bersama dan masa depan kaum muslimin.
“Jelas, pemaksaan kehendak dalam bentuk pemaksaan tafsiran itu bertentangan dengan demokrasi,” tulis Gus Dur.
Dikuatkan dari arsip GusDur.Net mencatat esai itu pertama kali dimuat di Kedaulatan Rakyat pada 29 April 2003. Gagasan tersebut menempatkan penghormatan terhadap perbedaan sebagai bagian dari kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Selanjutnya pada era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, hubungan Islam dengan kepemimpinan dibahas dalam SBY & Islam karya Munawar Fuad Noeh. Google Books mencatat buku terbitan eLSAKU tahun 2004 itu membahas kehidupan dan pemikiran keagamaan SBY dalam konteks pencalonannya pada pemilihan presiden saat itu.
Pandangan SBY dapat pula ditelusuri melalui arsip kepresidenan. Dalam laporan Sekretariat Negara tentang Bali Democracy Forum, 11 Desember 2008, SBY menyampaikan bahwa demokrasi di Indonesia berjalan berdampingan dengan Islam dan modernisasi.
Ketika menghadiri peringatan Maulid Nabi pada Januari 2014, ia kembali menekankan keteladanan kepemimpinan Nabi Muhammad.
“Dalam kepemimpinannya Rasulullah mengayomi, merangkul semua pihak dan membangun toleransi,” kata SBY, sebagaimana dimuat Sekretariat Negara pada 16 Januari 2014.
Hubungan agama dengan kebijakan publik menjadi perhatian buku tentang Joko Widodo. Moh. Dahlan menulis Membumikan Islam dalam Kerangka Kebijakan: Membaca Gagasan dan Kebijakan Joko Widodo Berdasarkan Nalar Fiqih Ke-NU-an.
Dalam kata sambutan buku yang tersedia melalui repositori IAIN Bengkulu, Sirajuddin M. menjelaskan bahwa karya tersebut membaca gagasan dan kebijakan Jokowi melalui nalar fikih NU, termasuk hubungan saling mendukung antara agama dan negara. Kerangka itu merupakan pendekatan penulis dalam menafsirkan kebijakan Jokowi.
Dalam pernyataannya sendiri, Jokowi menghubungkan ajaran Islam dengan kesalehan individual dan sosial. Saat memperingati Maulid Nabi di Istana Kepresidenan Bogor, 30 November 2017, ia menekankan tanggung jawab membangun masyarakat yang damai, adil, dan makmur.
Mengutip arsip Sekretariat Negara, Jokowi juga mengaitkan semangat membantu kelompok lemah dengan pembiayaan usaha kecil, layanan pendidikan dan kesehatan, serta program kesejahteraan sosial.
Pembacaan terhadap Prabowo Subianto hadir melalui Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Katalog penerbit Media Luhur Sentosa mencatat buku ini terbit pada 2025. Deskripsi buku di Gramedia menempatkannya sebagai uraian mengenai riwayat dan kiprah Prabowo dari sudut pandang keagamaan.
Pandangan yang disampaikan langsung oleh Prabowo dapat ditemukan dalam sambutannya pada konferensi ke-19 Persatuan Parlemen Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam atau PUIC, di Jakarta, 14 Mei 2025.
Menurut laporan Sekretariat Negara, Prabowo menyoroti kemiskinan, kelaparan, korupsi, ketimpangan pendidikan, dan kelemahan pengelolaan sumber daya sebagai tantangan dunia Islam. Ia menekankan perlunya pemerintahan yang baik, lembaga yang kuat, serta pemimpin yang jujur.
“Esensi ajaran Islam adalah cinta kasih,” ujar Prabowo dalam sambutan tersebut.
Jika dibaca berdampingan, rangkaian sumber itu memperlihatkan perbedaan penekanan dalam menghubungkan Islam dengan kehidupan berbangsa. Pembaruan pemikiran, kemajuan ilmu, kebebasan beragama, demokrasi, dan kesejahteraan rakyat menjadi persoalan yang terus muncul. Buku dan arsip pidato menyediakan jalan untuk menelusuri bagaimana setiap tokoh merumuskan hubungan tersebut dalam konteks zamannya. []