DIALEKSIS.COM | Aceh - Masjid Jamik Darussalam Kampus Universitas Syiah Kuala dipenuhi jamaah pada pelaksanaan salat Jumat yang berlangsung khidmat. Pada kesempatan itu, Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si., IPU, ASEAN Eng., yang juga dikenal sebagai calon Rektor Universitas Syiah Kuala, dipercaya menjadi khatib.
Khutbah yang disampaikannya mengajak jamaah merenungkan makna kebaikan yang dianugerahkan Allah kepada manusia serta tanggung jawab moral yang menyertainya.
Dalam khutbahnya terekam Dialeksis (Jumat,23/01/2026), Prof. Agussabti menegaskan bahwa setiap kebaikan yang diterima manusia bukanlah semata-mata keistimewaan, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Dirinya menyebut bahwa Allah memberikan kebaikan dalam berbagai bentuk, yang jika tidak disyukuri dan dikelola dengan benar, justru dapat berubah menjadi ujian.
Salah satu kebaikan yang disorot adalah jabatan atau tahta. Menurut Prof. Agussabti, jabatan merupakan bentuk kepercayaan yang menuntut integritas dan pengabdian.
Ia mengingatkan bahwa kekuasaan bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk melayani. Seorang pemegang jabatan, baik di lingkungan pemerintahan, pendidikan, maupun organisasi sosial, dituntut untuk berlaku adil, jujur, serta menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.
Dalam konteks kampus, ia menekankan bahwa kepemimpinan harus diarahkan untuk memperkuat nilai keilmuan, menjaga etika akademik, dan menciptakan ruang yang adil bagi seluruh sivitas akademika. Jabatan, menurutnya, akan bernilai ibadah apabila digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan.
Selain jabatan, Prof. Agussabti juga menyoroti kebaikan dalam bentuk kekayaan. Ia menyampaikan bahwa harta bukan sekadar simbol keberhasilan, tetapi sarana untuk berbagi dan menebar manfaat.
“Kekayaan akan menjadi berkah jika digunakan untuk membantu sesama, memperkuat solidaritas sosial, dan mendukung kepentingan bersama,” ujarnya.
Ia mengingatkan jamaah agar tidak terjebak pada sikap menimbun dan berlebihan, karena harta sejatinya memiliki hak orang lain di dalamnya.
“Dalam lingkungan pendidikan, pengelolaan kekayaan harus dilakukan secara transparan dan berorientasi pada kemanfaatan publik, termasuk untuk mendukung akses pendidikan dan pengembangan masyarakat,” ungkap Wakil Rektor 1 USK ini.
Kebaikan berikutnya yang disampaikan adalah kesehatan. Prof. Agussabti menempatkan kesehatan sebagai nikmat yang sering kali baru disadari nilainya ketika hilang. Ia menegaskan bahwa kesehatan merupakan modal utama agar manusia dapat beribadah, bekerja, dan menuntut ilmu secara optimal. Menjaga kesehatan, menurutnya, adalah bagian dari rasa syukur kepada Allah.
Ia juga mengajak jamaah untuk menumbuhkan kesadaran hidup sehat, baik secara fisik maupun mental, serta menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan bersama. Kampus, kata dia, memiliki peran strategis dalam membangun budaya hidup sehat dan peduli terhadap sesama.
Dalam khutbah tersebut, Prof. Agussabti menutup refleksinya dengan membahas kebaikan berupa pengetahuan atau ilmu. Ia menyebut ilmu sebagai nikmat yang paling menentukan arah peradaban. Bagi kalangan akademisi, ilmu bukan hanya untuk dikuasai, tetapi juga untuk diamalkan dan dibagikan demi kepentingan masyarakat luas.
Ia mengingatkan bahwa ilmu yang tidak disertai akhlak dan tanggung jawab sosial dapat melahirkan kesombongan. Sebaliknya, ilmu yang digunakan untuk memecahkan persoalan masyarakat, memperbaiki kebijakan, dan mencerdaskan generasi akan menjadi amal jariah yang terus mengalir pahalanya.
Menutup khutbahnya, Prof. Agussabti mengajak jamaah menjadikan setiap kebaikan yang diterima sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama. Menurutnya, kebaikan sejati bukan diukur dari apa yang dimiliki, melainkan dari sejauh mana nikmat tersebut menghadirkan keberkahan bagi lingkungan sekitar.
Khutbah yang disampaikan di masjid kampus itu meninggalkan kesan mendalam bagi jamaah, terutama karena memadukan pesan spiritual dengan refleksi sosial yang relevan dengan kehidupan akademik dan masyarakat Aceh secara luas.